Wow, Pemuda Asal Cirebon Berkesempatan Melihat Dapur Apple di Amerika Serikat

Racik Aplikasi Pengenal Uang untuk Tunanetra

Maulana Rizal Hilman anak Kondangsari, Beber, Kabupaten Cirebon saat berada di markas Apple Amerika Serikat. FOTO:MAULANA RIZAL HILMAN FOR RADAR CIREBON
Maulana Rizal Hilman anak Kondangsari, Beber, Kabupaten Cirebon saat berada di markas Apple Amerika Serikat.FOTO:MAULANA RIZAL HILMAN FOR RADAR CIREBON

PERJALANAN hidup Maulana Rizal Hilman seperti rollercoaster. Sempat berada di titik terendah dan drop out dari sekolah saat SMP, kini justru membuat nama Cirebon dan Indonesia harum dengan prestasinya. Ia menjadi wakil dari Indonesia, berkesempatan melihat langsung dapur Apple, salah satu perusahaan raksasa teknologi terbesar di dunia yang bermarkas di Amerika Serikat.

Pria kelahiran Desa Kondangsari, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, 11 Maret 1998, itu kini lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Ia saat ini fokus menyelesaikan aplikasi pengenal mata uang khusus untuk tuna netra. “Kalau pulang ke Cirebon sewaktu-waktu saja,” ujar Hilman kepada Radar Cirebon.

Ia lebih banyak di Jakarta karena tempat kerja atau tempat magangnya memang di ibu kota. “Saya asli Cirebon, sekolah di Cirebon dan besar di Cirebon. Nasib dan doa orang tua yang bisa membawa saya bisa sampai sejauh ini,” lanjutnya.

Hilman pun menceritakan perjalannnya berkunjung langsung ke dapur Apple di Amerika. Bersama beberapa perwakilan lainnya, baik dari Indonesia atau dari negara lainnya, selama seminggu lebih mereka di dapur Apple. Dimulai 1 Juni sampai 10 Juni 2019.

Diceritakan Hilman, ia berkesempatan berkunjung ke Apple setelah mengikuti Worldwide Developers Conference (WWDC) 2019 yang diadakan Apple. Saat itu ia mengirimkan aplikasi game sandcastle. Setelah direview oleh panitia, ia pun berhasil memenangi kontes itu dan menjadi salah satu wakil Indonesia yang berkesempatan mengunjungi kantor Apple.

“Ada kebanggaan tentunya bisa berkunjung ke sana, bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan bisa belajar banyak hal. Terlebih gak nyangka juga. Saingannya kan ribuan. Ini tingkatnya internasional, sedunia, yang dipilih cuma 350 orang,” imbuhnya.

Cerita Hilman saat ini, tentu berbeda saat ia sekolah di tingkat SMP. Ketika itu terpaksa drop out karena berbagai alasan. Ia pun terpaksa menuntaskan pendidikannya di tingkat SMP melalui jalur Paket B di PKBM Nurul Qomar. “Alasannya banyak. Saat itu saya yang mengundurkan diri dan akhirnya tumbuh lagi niat belajar dan akhirnya menyelesaikan pendidikan di PKBM. Selepas itu saya diterima di SMK Informatika Al Irsyad di jurusan rekayasa perangkat lunak. Kalau kenal dengan dunia pemrogaman sejak SMP, dikenalkan paman dan setelah saya coba menarik,” jelasnya.

Selepas SMK, keinginannya untuk memperdalam pengetahuan di dunia IT semakin besar. Ia pun kemudian melanjutkan pengembaraannya di Pesantren Android Imastudio di Jakarta. “Di pesantren ini saya setahun. Kelasnya offline. Jadi selain belajar agama juga belajar programming. Setelah itu ikut lagi belajar di Apple Developer Academy di Tangerang, sampai kemudian magang di Tokopedia dan akhirnya ikut WWDC 2019,” bebernya.

Hilman sendiri adalah anak kedua dari tiga bersaduara. Opipah (41), ibunya, sehari-hari adalah ibu rumah tangga sementara sang ayah Kusmawah (45) bekerja sebagai penjual sapu dan perabot rumah tangga keliling. Meskipun di tengah himpitan ekonomi, tak membuat Hilman minder ataupun merasa rendah diri. Justru hal tersebut jadi pemantik semangat agar bisa sukses dan membahagiakan orang tua.

“Sehari-hari orang tua masih berjualan sapu. Dituntun pakai sepeda. Saya tidak malu. Justru saya bangga dengan orang tua saya. Saya harus bisa membuktikan bahwa mimpi dan cita-cita untuk berhasil itu punya semua orang, bukan milik yang berduit saja,” katanya kepada Radar Cirebon.

Saat ini ia dan timnya tengah merampungkan sebuah aplikasi untuk membantu aktivitas kalangan disabilitas. Yakni membuat aplikasi untuk mengenali mata uang khusus untuk tuna netra. Aplikasi ini sudah dikerjakan sekitar 6 bulan.

“Sudah hampir selesai, sedang tahap penyempurnaan untuk scannya saja agar lebih maksimal. Aplikasi ini nanti uang di-scan dan akan ada pemberitahuan melalui voice sehingga akan membantu kalangan tuna netra,” tambahnya.

Selain sudah mengikuti WWDC Apple 2019, Hilman juga pernah mengikuti Hackathon Malaysia pada tahun 2018 dan Singapore pada 2019. Hackathon adalah ajang atau kompetisi pekan retas pengembangan ide teknologi untuk tujuan tertentu. (dri)

Berita Terkait