Warga Desak Polisi Usut Tuntas Pelaku Penyerangan Kasus Sengketa Tanah HGU PG Rajawali II Jatitujuh

8 Kendaraan Dirusak Massa, 6 Orang Luka-luka

Sejumlah kendaraan dirusak massa di area kebun tebu di perbatasan Majalengka-Indramayu. Tampak petugas dari Kodim 0616 Indramayu turun ke mengamankan lokasi, Selasa lalu (21/11).FOTO:IST

INDRAMAYU-Sengketa tanah Hak Guna Usaha (HGU) milik Pabrik Gula (PG) Rajawali II Jatitujuh yang melibatkan sejumlah kelompok masyarakat di Kabupaten Indramayu kembali terjadi. Bahkan November lalu terjadi aksi penyerangan terhadap petani penggarap lahan dan pegawai PG Rajawali II Jatitujuh.

Delapan kendaran roda empat dan roda dua milik petani penggarap lahan dan pegawai PG dirusak dan dibakar massa yang mengklaim tanah di lokasi kebun tebu di perbatasan Majalengka-Indramayu.  Di samping kendaraan dirusak, ada 6 petani tebu babak belur akibat dianiaya. Para korban pun meminta pihak kepolisian untuk segera menangkap para pelaku.

Menurut Dadang (51), salah seorang korban warga Desa Rancajawat RT 03/01 Kecamatan Tukdana, saat kejadian dirinya bersama petani penggarap dari sejumlah desa penyangga berniat untuk meninjau lahan HGU yang akan diolah. Belum sampai tujuan, tepatnya di Blok Gobel, Desa Amis, Kecamatan Cikedung, rombongan tiba-tiba dihadang ratusan massa tak dikenal.

“Berangkat dari PG pukul 08.30. Di tengah jalan saya dihadang ratusan massa yang membawa berbagai senjata tajam. Karena oleh massa disuruh kembali, saya pun menuruti permintaan mereka,” ungkap Dadang saat ditemui di kediamannya, Rabu (4/12).

Saat akan kembali, sekitar 100 meter dari lokasi awal, rombongan petani penggarap tiba-tiba diserang massa yang lain. Mereka diserang dengan berbagai senjata tajam dan balok kayu maupun bambu, hingga bercerai-berai menyelamatkan diri. “Saya ternyata sudah dikepung dan saya paling terakhir menyelamatkan diri. Kira-kira ada 8 orang yang menyerang saya dengan menggunakan senjata tajam dan bilah bambu,” imbuhnya.

Akibat kejadian itu, salah satu ruas tulang lengannya patah akibat menahan sabetan benda tajam. Daun telinganya pun nyaris putus, selain luka di sekujur tubuh akibat sabetan benda tajam dan pukulan benda tumpul. Sementara sepeda motor matic miliknya turut dirusak dan dibakar massa. “Saya hanya bisa pasrah. Karena meski sudah tidak berdaya pun saya masih dihajar massa. Beruntung saya akhirnya bisa selamat hingga dibawa ke Poliklinik PG dan dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.

Hingga kini Dadang mengaku masih belum beraktivitas seperti sedia kala, untuk memulihkan kondisi tulang lengan yang patah. Ia berharap pihak penegak hukum bisa secepatnya menuntaskan kasus pengeroyokan yang menimpanya.

Hal itu untuk memberi efek jera bagi pelaku sehingga petani penggarap pun bisa mengolah lahan dengan tenang dan aman. “Kalau proses hukumnya tidak tuntas, kejadian seperti ini mungkin akan terjadi berulang. Dan imbasnya adalah kami petani kecil yang menggantungkan mata pencaharian dari kebun tebu,” pungkas ayah dua anak itu.

Sementara Kabag SDM dan Umum PG Jatitujuh Eko Budi Setyawan mengatakan peristiwa penghadangan dan pengeroyokan petani penggarap oleh sekelompok orang tak dikenal itu terjadi Selasa (21/11). Rombongan yang akan meninjau lahan HGU milik PG Rajawali II Jatitujuh yang akan diolah, tiba-tiba diserang sekelompok orang tak dikenal dengan berbagai senjata tajam maupun balok kayu dan bilah bambu.

Akibat kejadian itu, kata Eko, 6 orang mengalami luka dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Sementara 8 kendaraan turut menjadi sasaran amuk massa. Dua mobil operasional milik PG Rajawali II Jatitujuh dirusak serta 6 sepeda motor petani penggarap dibakar. Pihaknya mendesak kepolisian menangkap para pelaku penganiayaan dan pembakaran kendaraan. “Untuk para korban sendiri, semua biaya pengobatan kita yang menanggung. Yang jelas kami meminta pihak terkait untuk segera menangkap para pelaku,” pintanya. (oni)

Berita Terkait