Usut Kasus Suap Sunjaya, KPK Gandeng Korea Selatan

Febri Sebut Jika Dibutuhkan untuk Pencarian Bukti

Ilustrasi

JAKARTA-Kasus suap yang menjerat mantan Bupati Cirebon Sunjaya Purwadisastra telah menyeret pihak lain menjadi tersangka. Dua nama yang pekan lalu ditetapkan oleh KPK menjadi tersangka adalah mantan General Manager Hyundai Engineering Construction (GM HDEC) Herry Jung serta Direktur Utama PT Kings Property Sutikno.

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diyansah

Nah, terkait Herry Jung, Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan pihaknya bakal menggandeng otoritas di Korea Selatan (Korsel) untuk mengusut dugaan suap ini. Koordinasi diperlukan, sambung Febri Diansyah, lantaran HDEC merupakan perusahaan konstruksi di bawah naungan Hyundai Motor Group yang berbasis di Korea Selatan. “Jika diperlukan tentu kami akan berkoordinasi dengan otoritas di Korea Selatan. Jika dibutuhkan untuk pencarian bukti,” ujar Febri ketika dikonfirmasi, Minggu (17/11).

Febri menjelaskan, langkah tersebut tergantung dengan proses penyidikan yang dilakukan KPK. Menurutnya, jika penyidik membutuhkan data-data korporasi Hyundai untuk mengusut dugaan suap terkait perizinan yang diurus Herry Jung, maka ia memastikan pihaknya akan bekerja sama dengan otoritas Korsel.

Mengingat, kata Febri, hubungan KPK dengan Anti-Corruption and Civil Right Commission (ACRC), KPK-nya Korsel, berjalan baik. Ia pun berharap melalui hubungan ini ACRC dapat membantu KPK menuntaskan kasus ini. “Kalau pun dibutuhkan nanti, tak menutup kemungkinan kerja sama lintas negara akan dilakukan sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku di Indonesia dan Korea Selatan,” ucap Febri.

Kendati demikian, Febri mengatakan fokus penyidik saat ini yakni mendalami peristiwa pemberian suap sebesar Rp6,04 miliar dari janji awal Rp10 miliar antara Herry Jung dan Sunjaya. Karena, fakta-fakta aliran suap itu telah mencuat dalam proses persidangan perkara yang menjerat Sunjaya sebelumnya.

Terungkap dalam persidangan, uang itu dikucurkan secara bertahap oleh Herry Jung yang diserahkan melalui perantara Camat Beber Rita Susana yang juga istri Camat Astanajapura Mahmud Iing Tajudin. Seiring dengan terungkapnya dugaan suap ini, terkuak jika modus penyerahannya dilakukan dengan cara membuat Surat Perintah Kerja (SPK) fiktif dengan PT MIM (Milades Indah Mandiri). “Untuk sekarang tim masih fokus pada pemeriksaan saksi dan bukti-bukti yang ada di Cirebon. Sebagian juga sebenarnya sudah muncul di fakta persidangan,” kata Febri.

Febri pun memastikan tim penyidik akan menelusuri asal-usul uang suap yang diberikan Herry Jung kepada Sunjaya maupun proses suap itu terjadi. Tim penyidik bakal mengembangkan fakta dan bukti yang telah diperoleh, terutama untuk mengusut sumber uang suap. “Dari sini tentu kita bisa menggali lebih jauh nanti uang tersebut berasal dari mana. Itu jadi poin yang akan jadi perhatian tim nantinya,” katanya.

Halaman: 1 2

Berita Terkait