Tradisi Turun Temurun Saat Mengantar Jenazah Patih Keraton Kanoman Masa Sultan Anom XI

CIREBON-Pangeran Raja H. Muhammad Imamudin bin Sultan Kanoman X Sultan Raja H. M. Nurus Samawat meninggal dunia Jumat, 19 Juli 2019 pukul 16.35 WIB di Rumah Sakit Pertamina Cirebon.

Jenazah dikebumikan di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati, yang merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi raja-raja dan keturunan Kesultanan Cirebon, Sabtu (20/7). Ribuan pelayat yang terdiri dari keluarga, abdi dalem Keraton Kanoman, serta masyarakat Cirebon turut mengantarkan jenazah ke pemakaman.

 

Jenazah diperlakukan sesuai ketentuan dan ajaran Agama Islam maupun adat Keraton Kanoman. Jenazah dimandikan di Langgar Alit Keraton Kanoman, sebelum kemudian dikafani dan disalatkan di Bangsal Jinem.

Selanjutnya, para pelayat yang terdiri dari sanak famili keraton, abdi dalem, serta masyarakat Cirebon dan sekitarnya, mengantarkan jenazah dari Bangsal Jinem ke Pasarean Astana Giri Nur Saptarengga (Gunung Sembung).

Juru Bicara Keraton Kanoman, Ratu Raja Arimbi Nurtina menjelaskan, tradisi mengantarkan jenazah dengan berjalan kaki dari Keraton Kanoman menuju Kompleks Makam Sunan telah turun-temurun dilakukan. Sepanjang perjalanan, penandu keranda maupun pelayat mengumandangkan sholawat.

“Pakem kami mengantarkan jenazah dengan berjalan kaki dari keraton, sehingga kami (yang masih hidup) dan jenazah bisa mendapat banyak berkah dari sholawat yang dikumandangkan bersama-sama itu,” terang Arimbi.

Imamuddin merupakan paman dari Sultan Kanoman XII, Sultan Raja Muhammad Emirudin. Almarhum dikenal sebagai sosok patih yang loyal terhadap Keraton Kanoman semasa menjabat.

Arimbi menyebutkan, Imamuddin menjabat sebagai Patih Keraton Kanoman semasa Sultan Anom XI Pangeran Raja Adipati Muhammad Jalalludin selama 15 tahun. Selama itu, almarhum menjalankan peran sebagai patih, salah satunya bertugas memimpin berbagai upacara adat di Keraton Kanoman.

“Almarhum selalu mendampingi ayahanda sultan kami,” tuturnya.

Kemudian, pasca kepemimpinan Sultan Keraton Kanoman dialihkan kepada Sultan Kanoman XII, Sultan Raja Muhammad Emirudin, posisi patih pun berpindah kepada Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran.

Selama empat tahun terakhir, Imamuddin mengidap berbagai penyakit. Bermula dari darah tinggi, almarhum sempat menjalani cuci darah dan mengalami gangguan pada ginjal.

“Almarhum sempat dirawat di RS Pertamina Klayan sebelum kemudian mengembuskan napas terakhir pada Jumat pukul 16.35 WIB. Usianya 72 tahun,” ujar Arimbi lagi.

Dalam kesempatan itu, dirinya mewakili Keraton Kanoman Cirebon, mengucapkan terima kasih kepada para pelayat yang datang dan mengantarkan jenazah hingga ke peristirahatannya yang terakhir. Arimbi juga memintakan maaf atas segala kesalahan almarhum dan meminta doa masyarakat agar keluarga diberi kesabaran dan ketabahan.

Kompleks Makam Sunan Gunung Jati sendiri merupakan tempat peristirahatan terakhir bagi raja-raja dan keturunan Kesultanan Cirebon. Salah satu tokoh terkenal yang dimakamkan di sini adalah Sunan Gunung Jati. Karenanya, area ini merupakan kawasan sakral bagi masyarakat Cirebon dan kerabat keraton. (*)

 

Video: Arifin Dendabrata

Berita Terkait