Tiga Warga Majalengka Tertahan di Wamena

Pihak Keluarga Minta Pemerintah Memulangkan

Kerusuhan di Wamena, Papua, 23 September lalu, membuat warga Majalengka resah dan waswas. Itu karena, ada warga Majalengka yang sudah lama tinggal sebagai penjual kain di sana. Tiga orang warga Majalengka tersebut berasal dari Desa Nanggewer, kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka.FOTO: ONO CAHYONO/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA-Kerusuhan di Wamena, Papua, 23 September lalu, membuat warga Majalengka resah dan waswas. Itu karena, ada warga Majalengka yang sudah lama tinggal sebagai penjual kain di sana. Tiga orang warga Majalengka tersebut berasal dari Desa Nanggewer, kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka.

Salah satu warga Desa Nanggewer, Nining, mengaku, suami, anak serta adiknya, dua tahun lebih bekerja sebagai penjual kain dan pakaian di Wamena. Dirinya mengaku cemas pasca kerusuhan yang menyebabkan lebih dari 30 orang meninggal dunia itu. Pihak keluarga berharap agar yang terkena musibah di Wamena segera dipulangkan.

Bahkan, saat kerusuhan itu terjadi, video amatir diabadikan oleh salah satu keluarga Nining di Wamena. Anaknya terlihat mengalami luka bacok di kepala dan mendapatkan penanganan pertama di rumah sakit setempat. “Saya cemas. Apalagi anak saya jadi korban, terlihat di video saat proses evakuasi ketika kerusuhan terjadi,” ujar Nining.

Dirinya terus berkomunikasi dengan anggota keluarga yang berada di Wamena. Mereka mengalami trauma karena banyak warga pendatang yang menjadi korban dalam kerusuhan tersebut. Mereka juga tidak tahan dengan kondisi tersebut karena ketakutan.

“Saya harap agar pemerintah bisa memulangkan keluarga kami dari Wamena dan bisa pulang dalam kondisi selamat. Reza anak saya terkena luka bacok di kepala. Alhamdulillah suamiku (Baridin) selamat,” ujarnya.

Nining mengaku, selain suami dan anaknya, adiknya, Narsono masih bertahan di Wamena. Dia terpaksa bertahan berjualan pakaian hanya untuk bisa pulang ke kampung halamannya. Sebab, tidak bisa pulang ke Majalengka karena belum ada fasilitas dari pemerintah. “Jadi, nunggu kumpul uang dulu untuk beli tiket, baru bisa pulang,” tuturnya.

Nining terus menanti kepulangan keluarganya. Dia hanya bisa menangis saat tragedi kerusuhan itu terjadi. Dirinya terus berharap agar pemerintah bisa membantu proses pemulangan keluarganya. Kepala Desa Nanggewer Adi Munadi membenarkan bahwa ada tiga warganya yang berada di Wamena berprofesi sebagai pedagang pakaian. Bahkan satu dari tiga orang warga terkena luka bacok saat peristiwa itu pecah. Kini mereka masih bertahan dalam kondisi masih mencekam.

“Informasinya, mereka terpaksa bertahan berjualan di pasar untuk mendapatkan tiket atau ongkos pulang. Kami berharap agar pemerintah bisa membantu memulangkan warga kami yang kini masih berada di Wamena,” harapnya. (ono)

Berita Terkait