Teror Berdarah Warnai Perundingan AS-Taliban, 16 Orang Tewas Akibat Ledakan Bom

BOM-TALIBAN
LEDAKAN DAHSYAT: Pasukan keamanan berdiri di sekitar lubang yang diakibatkan serangan bom. Sedikitnya 16 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka. Foto: Rahmat Gul/AP

KABUL – Sedikitnya 16 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka, dalam serangan bom di sebuah area perumahan di dekat Green Village, kompleks perkantoran sejumlah organisasi asing di Ibu Kota Afghanistan, Kabul.

Peristiwa ledakan itu terjadi pada Senin (2/9) malam waktu setempat, di tegah proses perundingan damai antara kelompok Taliban dan Amerika Serikat. Pihak Taliban pun mengklaim bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

“Serangan itu menewaskan 16 orang dan 119 lainnya terluka dalam serangan tadi malam,” kata Juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Nasrat Rahimi, Selasa (3/9).

Rahimi mengatakan, bahwa ledakan terjadi akibat sejumlah bom yang ditempel di sebuah traktor dan terparkir di sepanjang dinding pembatas kompleks Green Village.

Serangan itu terjadi ketika utusan khusus Amerika Serikat, Zalmay Khalilzad, berada di Kabul untuk membahas kesepakatan terkait kemungkinan penarikan pasukan AS dari Afghanistan.

Zalmay Khalilzad, yang saat itu berada di Afghanistan mengungkapkan hasil perundingan tersebut. Ia mengatakan, bahwa Amerika Serikat (AS) akan menarik 5.400 tentara dari Afghanistan dalam waktu 20 pekan ke depan. Namun, kata dia persetujuan akhir tetap ada di tangan Presiden AS Donald Trump.

Sebagai imbalan atas penarikan pasukan AS, Taliban akan memastikan bahwa Afghanistan tidak akan pernah lagi digunakan sebagai pangkalan untuk kelompok-kelompok milisi yang berusaha menyerang AS dan sekutunya.

“Kami sepakat bahwa jika kondisinya berjalan sesuai dengan perjanjian, kami akan meninggalkan lima pangkalan yang kami tempati sekarang dalam waktu 135 hari,” kata Khalilzad.

Seorang juru bicara Taliban mengonfirmasi lewat pesan teks kepada BBC bahwa rincian penarikan pasukan seperti yang diuraikan oleh Khalilzad benar.

Penarikan pasukan yang tersisa akan tergantung pada kondisi, termasuk dimulainya perundingan damai antara pemerintah Afghanistan dan Taliban serta gencatan senjata.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani akan mempelajari kesepakatan itu sebelum memberikan pendapat, kata juru bicaranya Sediq Seddiqqi, pada Senin (2/9).

“Pemerintah masih perlu bukti bahwa Taliban benar-benar berkomitmen pada perdamaian,” kata Ashraf.

Banyak orang di Afghanistan khawatir, bahwa kesepakatan AS-Taliban dapat mengikis hak-hak dan kebebasan yang mereka dapatkan dengan susah payah.

Kelompok milisi itu menerapkan hukum agama yang ketat dan memperlakukan perempuan secara brutal saat mereka berkuasa dari 1996 hingga 2001. (der/bbc/fin)

Berita Terkait