Terduga Anggota JAD Cirebon Siapkan Bom Kimia Beracun, Bisa Bunuh 100 Orang

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo

JAKARTA-Densus 88 Antiteror Mabes Polri kembali melakukan penegakan hukum secara prefentive strike terhadap enam terduga teroris di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Jawa Barat Densus mengamankan empat terduga teroris yang tergabung dari jaringan Jamaah Ansorut Daulah (JAD) Cirebon dan Bandung.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan pengembangan penegakan hukum terhadap terduga teroris dari kelompok JAD berbuah hasil. Menurut Dedi, empat terduga teroris yang kembali ditangkap antar lain dua terduga kelompok JAD Cirebon berinisial S dan LF, dan dua dari JAD Bandung berinisial DP dan MNA. Hasil dari penangkapan kali ini, ada temuan menarik berupa sejumlah bom.

“Ada temuan menarik dari penangkapan dua terduga JAD Cirebon, di mana ditemukan bom-bom yang telah disiapkan dengan daya ledak tinggi atau high explosive untuk amaliah bom bunuh diri. Dan calon pengantinya adalah LF,” kata Dedi di Mabes Polri di Jakarta.

“Bom ini berbeda dengan yang dirakit kelompok JAD dan teroris lainnya. Sebab, campuran kimianya lebih berbahaya. Kalau yang kita amankan dari tangkapan kelompok Abu Zee jenis high menggunakan tat, ini menggunakan berbagai bahan seperti metanol, Uurea, dan lain-lain,” sambung Dedi.

Selain itu, bom yang didapatkan dari dua terduga JAD Cirebon ini terdapat juga tambahan bahan kimia beracun. Jika meledak bom ini bisa membunuh 100 orang. Saat ini, seluruh bahan-bahan ini masih didalami Labfor Polri, sekaligus untuk pastikan didapat dari mana bahan-baham tersebut.

“Perlu disampaikan, dari tangkapan keduanya ini cukup banyak barang buktinya yang diamankan di tempat tinggal mereka. Antara lain sepeda motor, handphone, kartu atm, sajam berbagai jenis, buku dasar untuk mikrologi, buku kimia, dan buku-buku tentang terorisme, peralatan kimia, serta bahan yang sudah siap dijadikan bom,” ungkap Dedi.

Dengan demikian, Dedi menegaskan, penangkapan keduanya ini merupakan pengembangan dari tiga terduga teroris yang sebelumnya diamankan di wilayah Cirebon. Antara lain RF, BA dan YF. Artinya, total ada lima tersangka dari jaringan JAD yang ditangkap sampai saat ini. “Perlu diketahui, kelompok ini telah menyiapkan sasaran guna melakukan amaliah, yakni Mako Polri di Cirebon dan tempat ibadah di Cirebon,” ujar jenderal polisi bintang satu tersebut.

Adapun terkait penangkapan dua terduga teroris jaringan JAD Bandung berinisial DP dan MNA, Densus 88 berhasil mengamankan barang bukti airsoftgun, pisau lipat, dan satu botol cairan putih yang saat ini masih didalami labfor. “Mereka ini punya keterkaitan dengan tersangka JAD Bandung pimpinan WWN yang sudah kita amankan 10 September 2019 lalu, sedangkan kemarin kita amankan tiga tersangka yakni AA, JT dan N,” jelas Dedi lagi.

Sama halnya dengan JAD Cirebon, Dedi menerangkan, jika kelompok JAD Bandung juga memiliki target sasaran amaliahnya itu adalah mako Polri di wilayahnya Bandung dan juga tempat ibadah. “Yang membedakan, hanya aksi amaliahnya saja. Kalau JAD Cirebon itu suicide bomber (bom bunuh diri), sementara untuk JAD Bandung ini dengan cara penyerangan menggunakan senjata,” ujarnya.

Dedi memastikan, jika saat ini Densus 88 masih terus bergerak melakukan upaya mitigasi maksimal di beberapa wilayah. Sehingga, meskipun sampai saat ini sudah amankan sebanyak 26 tersangka, tim ini tak berhenti untuk melakukan penindakan hukum tersebut. “Ini sebagai bentuk upaya Polri untuk memastikan kegiatan nasional kedepan, diantaranya adalah pelantikan Presiden tidak terganggu dan berjalan aman, lancar dan kondusif. Namun demikian, kita sampaikan juga kalau para tersangka dan kelompok ini tidak ada keterkaitan dengan penggagalan proses pelantikan presiden,” tegasnya.

“Ini bisa kita pastikan, karena memang mereka ini belum ditemukan ada jejak upaya amaliyah di pelantikan Presiden. Untuk pengamanan pelantikan sendiri, kita sudah siaga 30 ribu personel jadi masyarakat tak perlu khawatir. Mereka ini melakukan serangan terorismenya di Cirebon, Bandung, Jogja, juga sama tempat ibadah dan Mako Polri, seperti kasus yang terjadi di Solo,” tandasnya. (fin)

Berita Terkait