Tawuran Pecah Lagi, Putus Mata Rantai Kebencian

Aparat kepolisian dibantu warga mengamankan seorang siswa yang terlibat tawuran, Senin sore (14/10). FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Tawuran pelajar kembali pecah di Jl Brigjen Dharsono (By Pass), Senin sore (14/10). Dua kelompok pelajar saling serang saat jam pulang sekolah. Aksi kejar-kejaran disertai lemparan batu ini, sempat membuat pengguna jalan menepi.

Meski berlangsung singkat, namun kejadian ini kembali membuka masalah yang hingga saat ini belum dapat diselesaikan. Beruntung di lokasi ada aparat kepolisian dibantu warga yang langsung melerai pertikaian tersebut. Sejumlah pelajar juga sempat diamankan.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Cirebon Drs H Hediyana Yusuf MM menilai, fenomena tawuran antar pelajar akan terus berkembang dan membahayakan bila tidak dicegah. “Mereka mengarah ke keonaran. Saya menyatakan, kasus yang terjadi di SMK PUI (kasus pelemperan benda sejenis molotov, red) sudah berat. Saya katakan itu sebuah keonaran. Keonaran yang tidak layak bagi seorang siswa,” kata Hedi, belum lama ini.

Ia juga mengimbau stake holder dalam hal ini pihak sekolah, menyikapi permasalahan tawuran dengan serius. Pelajaran agama di sekolah, dirasa tidak cukup mewakilkan pendidikan budi pekerti yang cakupannya luas. Karena pelajaran agama hanya dua jam dalam satu minggu. Memenuhi pendidikan akhlak, diperlukan sinergi dinas pendidikan provinsi dan dinas pendidikan kota/kabupaten Cirebon.

Hedi mengatakan budi pekerti mempelajari bagaimana menyapa orang tua yang sopan, berbicara dengan guru, dan masih banyak lagi. Andil orang tua terhadap perilaku anak, dirasa memiliki porsi lebih sedikit. “Sementara orang tua hanya memiliki keinginan anaknya menjadi lebih baik, makannya di sekolahkan. Peran orang tua juga sangat strategis, tapi anak itu waktunya lebih banyak di sekolah,” ungkapnya.

Yang tidak kalah penting ialah memutus mata rantai kebencian dan dendam. Mengingat latar belakang ini, membuat persoalan kian pelik. Tawuran bisa terus menerus berulang, tinggal menanti pemicunya saja.

Kepala SMK PUI Kota Cirebon Halim Falatehan menilai, masalah tawuran yang terjadi berulang kali harus diantisipasi dengan penegakan hukun dari aparat. Menurutnya, pihak sekolah sudah tidak bisa melakukan control penuh terhadap siswanya ketika berada di luar jam sekolah. Penegakan hukum tersebut, harus dilakukan tanpa pandang bulu. “Kalau ada kumpul kumpul anak sekolah yang kemungkinan akan melakukan tawuran, ya tinggal bubarkan saja. Kan itu memang tugas mereka. Baik aparat kepolisian maupun Satpol PP,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi tawuran, diperlukan sinergi semua pihak. Masing-masing instansi harus berperan sesuai dengan tanggung jawabnya. Pihak sekolah, tentunya mendidik dan membina anak didiknya selama di sekolah.

Peran serta keluarga dan juga lingkungan sekitar juga tak kalah penting. “Selama berada di rumah dan lingkungan tentunya pihak sekolah tidak bisa melakukan kontrol. Maka dari itu, diperlukan kesadaran dan akan tanggung jawabnya masing-masing,” pungkasnya. (awr)

Berita Terkait