Tantangan Guru Hadapi Siswa Milenial

Tantangan guru saat ini semakin berat dan diperlukan peningkatan kualitas. FOTO:AGUS PANTHER/RADAR KUNINGAN
Tantangan guru saat ini semakin berat dan diperlukan peningkatan kualitas.FOTO:AGUS PANTHER/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN–Tantangan seorang guru dalam menghadapi siswa generasi milenial saat ini dinilai lebih kompleks. Tak hanya harus menguasai ilmu mata pelajaran, guru juga wajib melek teknologi. Hal itu dikatakan Sekda Dr H Dian Rachmat Yanuar MSi saat mengisi workshop Peningkatan Disiplin dan Optimalisasi Kinerja Pegawai dalam Mewujudkan Pendidikan Bermutu di lingkungan Disdikbud Kuningan, Kamis (16/5).

Sekda Dian juga menyampaikan, bahwa kaitan dengan generasi sekarang berawal dari generasi kertas pensil, generasi komputer, generasi internet, hingga generasi handphone pintar. Namun untuk saat ini lebih dikenal dengan sebutan generasi milenial.

“Generasi ini memiliki karakteristik suka memegang kendali, tidak mau terikat dengan jadwal pelajaran tambahan, lebih suka menggunakan teknologi untuk belajar, melakukan komunikasi di mana saja, tidak menyukai komunikasi satu arah, percaya diri dan pantang menyerah, kurang menyukai bacaan konvensional, dan mahir teknologi,” ujarnya.

Oleh sebab itu, kata Dian, tentunya karakteristik generasi milenial menjadi tantangan bagi guru generasi milenial yaitu harus melek teknologi digital. Seorang guru harus memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar dan komunikasi pembelajaran, melakukan pembelajaran yang relevan dengan peserta didik, menyenangkan dan penuh makna, serta harus menjadi role model yang memiliki kapasitas mumpuni.

“Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya bermutu, tapi guru bermutu bisa melahirkan ribuan orang hebat. Guru biasa itu memberitahu, guru baik itu menjelaskan, guru ulung itu memperagakan, dan guru hebat itu mampu mengilhami,” ungkapnya.

Lebih jauh Sekda Dian memaparkan, kualitas guru harus ditingkatkan salah satunya dengan kedisiplinan yang tinggi. Disiplin erat kaitannya dengan motivasi, dalam memotivasi akan mempengaruhi perilaku, sementara perilaku akan memberi warna seseorang yang berpengaruh dan akan  menentukan tingkat kesadaran disiplin di lingkungan organisasinya.

“Disiplin bukan semata-mata ditetapkan dalam upaya preventif untuk mencegah terjadinya pelanggaran, melainkan dalam upaya disiplin korektif dan upaya disiplin progresif yaitu untuk memperbaiki kearah kemajuan melalui perbaikan yang lebih baik di organisasinya. Begitu juga untuk mewujudkan pendidikan bermutu, tidak lepas dibutuhkan kedisiplinan dari semua pihak,” tandasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Disdikbud Kuningan Drs H Maman Hermansyah MSi menjelaskan, kunci suksesnya sebuah pekerjaan harus diawali dari kedisiplinan. Jika kedisiplinan melemah, maka dipastikan hasil pekerjaan yang dilakukan kurang memuaskan.

“Dalam rangka mewujudkan tata kelola pegawai yang baik, pihak kami akan selalu memantau kegiatan pegawai di lingkungan kedinasan. Sehingga bila ditemukan adanya pelanggaran akan diberi teguran lisan maupun tertulis, bahkan jika tidak bisa mengubah perilaku pegawai maka dilakukan langkah-langkah lebih berat,” tutupnya. (ags)

Berita Terkait