Susah Regenerasi, Khawatir Rotan Kehilangan Tenaga Kerja

ilmi-boks-(5)
Usia senja tak menghalangi semangat Kadir (67) untuk berkarya. Menganyam rotan, membuat berbagai sampel rotan adalah pekerjaannya sehari-hari.FOTO:ILMI YANFA UNNAS/RADAR CIREBON

CIREBON-Usia senja tak menghalangi semangat Kadir (67) untuk berkarya. Menganyam rotan, membuat berbagai sampel rotan adalah pekerjaannya sehari-hari. Jam terbangnya sudah tak diragukan lagi. Ia bahkan sudah merantau ke berbagai kota di Indonesia untuk memasarkan buah hasil kerajinannya.

Senyumnya merekah menyambut kedatangan tim Radar Cirebon. Meski siang itu panas menyengat, tapi semangat Kadir (67) untuk bekerja tetap tinggi. Ia sedang berada di salah satu pabrik yang memproduksi rotan alami. Ayah lima orang anak ini usai bertemu dengan salah satu pemilik perusahaan rotan besar di Tegalwangi.

Setelah senggang, Kadir mulai membuka perbincangan. Kadir adalah salah satu perajin rotan yang ‘awet’. Bayangkan saja, ia sudah menjadi perajin sejak usia 14 tahun dan masih tetap menjadi perajin hingga saat ini. “Dulu belum banyak pabrik. Saya bikin rotan untuk lokalan saja,” kata pria asli Desa Tegalwangi ini kepada RadarCirebon.

Karena pasar lokal tak menentu dan terkadang sepi order, Kadir mulai merantau ke luar Cirebon. Sejak umur 15 tahun hingga dewasa, ia melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Pontianak, Banjarmasin, Balikpapan, Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Bengkulu, Palembang, Pageralam, dan Lampung. “Di sana buka usaha rotan. Apalagi kalau musim mau Lebaran, rotan ramai,” sambungnya.

Ia tak ingat pasti kapan kembali lagi ke Cirebon. Tapi yang diingat, Kadir kembali lagi ke Cirebon pada tahun 1981. “Berhubung di sini banyak pabrik, akhirnya saya kembali ke Cirebon,” ujarnya.

Di Cirebon, Kadir juga dipercaya untuk memimpin perusahaan CV Kusen pada tahun 1982 hingga 1990. Menurutnya, itulah awal mula perusahaan rotan mulai banyak melakukan ekspor. “Setelah itu saya juga ke Jakarta, mimpin perusahaan lagi di Serpong Tangerang, di Sinar Rotan Mas sama orang Filipina dan Taiwan. Di sana ngajarin juga orang pribumi, yang belum bisa-bisa. Waktu itu diharuskan pribumi menciptakan lapangan kerja,” bebernya.

Tak lama, tahun 1992 Kadir kembali ke Cirebon. Ia mulai menerima pesanan. Termasuk dari Hitra Indotraco. “Orderan saya bawa ke rumah. Sampai sekarang masih,” jelasnya.

Kemampuannya di industri rotan tak bisa dipungkiri. Ia bahkan siap mengerjakan pesanan walaupun hanya dalam bentuk selembar kertas. “Nganyam juga bisa. Bikin rangka juga bisa. Bahkan kalau lagi ramai-ramainya, saya minta bantuan orang lagi sampai 10 orang,” ujarnya.

Semua itu tergantung dari perusahaan yang memberinya pekerjaan. Jika sedang ramai, pesanan bisa mencapai satu hingga dua kontainer. Tapi untuk sekarang, hanya berkisar 20 hingga 50 barang, khusus produk furniture. “Itu bukan dari satu pabrik, tapi dari banyak pabrik,” tuturnya.

Untuk tetap mendapatkan pesanan, Kadir pun terus melakukan sistem ‘jemput bola’. Meski sudah memiliki tiga cucu, tapi ia pantang menyerah. Setiap hari ke sana ke mari mencari order. “Kita ke sana ke mari cari order, main ke pabrik-pabrik,” imbuhnya.

Ia bersyukur, karena ada saja pesanan hingga ia berhasil menyekolahkan kelima anaknya sampai sarjana. Namun sayangnya, dari lima orang anaknya, tak ada satupun yang mengikuti jejaknya menjadi perajin rotan. “Gak ada yang ngikutin jejak saya. Saya gak bisa kasih mereka modal, hanya bisa kasih ilmu melalui sekolah. Anak zaman sekarang lebih suka kerja pakai pakaian rapi, dibanding ngurusin rotan,” paparnya.

Rasa khawatir pun sesekali muncul dalam benaknya. “Ke depan, rotan akan kehilangan tenaga kerja karena generasi penerusnya gak ada. Jadi, saya harap harus ada upaya bersama supaya anak-anak muda mau nganyam rotan, produksi rotan,” pungkasnya. (nda)

Berita Terkait