Sungai Cipadu Bebas Sampah

Pencemaran Limbah Rumah Tangga, Perlu Peran Serta Masyarakat

Area muara Sungai Cipadu yang kini sudah terlihat lebih bersih, Kamis (14/11). Pemasangan kawat dan pembersihan sampah di DAS, efektif mengurangi penumpukan sampah. FOTO:DKIS FOR RADAR CIREBON

CIREBON-Sungai Cipadu bertahun-tahun dikeluhkan warga karena tumpukan sampah di area sekitar muara. Sempat juga menjadi viral lantaran sampah yang terbawa arus pasang laut terjebak di depan saluran air Keraton Kasepuhan. Sekarang, sudah jauh berbeda.

Pemasangan kawat baja untuk penyaring sampah oleh Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR) Kota Cirebon dan upaya pembersihan secara kontinyu oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH), mulai menampakan hasil. Dari pantauan udara menggunakan pesawat tanpa awak (drone), area menuju muara Sungai Cipadu tidak lagi terlihat tumpukan sampah. Meski masih ditemui sampah kemasan plastik, tapi hanya di beberapa titik saja.

Komplek Keraton Kasepuhan yang sebelumnya penuh dengan tumpukan sampah usai digelarnya pasar muludan, kini sudah tampak lebih bersih. Tidak ada lagi pemandangan sampah yang menggunung. Baik di dalam alun-alun, di sekitar komplek keraton hingga di aliran Sungai Cipadu yang berada di depan Keraton Kasepuhan.

Berdasarkan pantauan pada Kamis (14/11), gundukan sampah hanya terlihat di beberapa sisi saja. Itupun jumlahnya tidak banyak dan terlihat “baru”. Sementara para pedagang pasar dadakan muludan juga tidak ada lagi yang membuka lapak daganganya. Hanya beberapa pedagang lama yang memang sehari hari berjualan saja yang membuka lapak daganganya.

Dinas Lingkungan Hidup telah mengerahkan 20 orang petugas kebersihkan untuk menyisir sisi sisi yang masih terdapat sampah. DLH juga menerjunkan 4 armada mobil dum truck serta satu loader untuk mengangkut sampah.

Kepala DLH Kota Cirebon Drs H RM Abdullah Syukur MSi mengatakan, dari bersih-bersih yang dilakukan oleh petugas, setidaknya 45 meter kubik sampah telah diangkut. Pengangkutan itupun terpaksa dilakukan beberapa hari setelah puncak acara, yakni prosesi panjang jimat selesai dan para pedagang serta pengelola wahana permainan membongkar lapaknya masing-masing. “Ya karena baru setelah pedagang membongkar daganganya, armada kita bisa masuk. Karena aksesnya tidak bisa dilalui armada dum truk yang kita miliki,” kata Syukur, Kamis (14/11).

Sampah yang menumpuk itu merupakan akumulasi dari aktivitas pasar muludan yang telah berjalan mulai sebulan jelang prosesi puncak panjang jimat. Banyaknya pedagang itupun seolah tidak menyisakan sedikitpun tempat sebagai titik pengangkutan sampah. Akibatnya, saat acara selesai, sampah masih tersisa.

Untuk mengantisipasi penumpukan sampah kembali memenuhi, DLH ke depan akan menerapkan manajemen pengelolaan sampah saat muludan. Misalnya, setiap harinya akan ada petugas DLH yang bertugas mengambil sampah di masing-masing lapak pedagang, lalu kemudian menempatkan sampah tersebut di satu titik yang terjangkau dan bisa di akses oleh truk besar pengangkut sampah.

Ia melanjutkan, sebagai salah satu destinasi wisata utama di Kota Cirebon, Komplek Keraton Kasepuhan memang seharusnya dirawat, baik dari sisi keindahan maupun kebersihanya. Setelah dibersihkan, dirinya berharap kepada masyarakat dan juga pengunjung akan lebih tertib lagi dalam membuang sampah. “Ini menjadi tugas kita bersama. seluruh stake holder untuk mencapai Cirebon Bersih 2020,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang PSA Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR) Kota Cirebon Agung Kemal Hasan ST MM mengatakan, pemasangan saringan kawat di Sungai Cipadu memang efektif untuk menjaring sampah. Untuk tahun anggaran ini pihaknya memprioritaskan terlebih dahulu bagian kali yang didepan keraton. Ini dilakukan agar kali terlihat bersih dan indah, sejalan dengan Keraton Kasepuhan yang merupakan salah satu ikon wisata budaya dan sejarah Kota Cirebon.

Menurutnya, pemasangan kawat ini mampu meminimalisir sampah yang menumpuk didepan keraton seperti pada beberapa waktu lalu. Hanya saja diakuinya, air kali tetaplah kotor karena bercampur dengan limbah dari berbagai pembuangan, seperti limbah rumah tangga dan lainnya. “Sekarang kami mohon kesadaran masyarakat. Jangan buang sampah ke sungai, jangan buang limbah rumah tangga ke sungai,” katanya. (awr/gus)

Berita Terkait