Setiap Bulan, 4 Orang Tertangkap Edarkan Obat Keras di Sekolah

BARANG BUKTI OBAT FARMASI
OBAT TERLARANG: Satnarkoba Polres Majalengka menyita obat-obatan farmasi yang diedarkan warga Jatitujuh. FOTO: ISTIMEWA/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Majalengka menyatakan setiap bulan ada warga Majalengka yang terjaring menjadi pengedar obat-obatan keras. Setidaknya ada empat orang di cokok petugas kepolisian karena kedapatan membawa dan menjual obat-obatan jenis Dekstrometorfan, Trihex dan Tramadol.

“Hingga Minggu kemarin jumlah warga yang menyalahgunakan jenis obat-obatan keras atau yang di BAP oleh pihak kepolisian tercatat 28 orang sepanjang tahun. Rata-rata setiap bulannya ada empat orang tertangkap menjual obat-obatan tersebut,” kata Staf Bidang Perizinan, Pengawasan Obat-obatan, Makanan dan Minuman, Iman Budiman SFarm Apt, di kantornya, Senin (18/11).

Iman yang sering menjadi saksi ahli pada kasus tersebut menyebutkan, dua jenis obat-obatan seperti Dekstrometorfan dan Trihex mulai berkurang karena mulai selektifnya apotik dalam memperjualbelikan obat tersebut. Artinya masyarakat biasa sudah tidak diperbolehkan membeli dua jenis obat itu secara bebeas kecuali memang ada resep dokter. Alhasil para penjual itu mulai beralih ke obat lain jenis Tramadol.

“Sekarang itu Tramadol sepertinya menjadi primadona baru. Karena Dextro dan Trihex sudah di-cut izin edarnya. Kecuali kombinasi obat batuk. Kalau tunggal tidak boleh,” terangnya.

Pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat jika melihat obat-obatan yang jenisnya tidak dikenal agar segera menginformasikan kepada pihak Puskesmas. Pasalnya penyalahgunaan obat-obatan ini sudah masuk ke ruang atau lembaga pendidikan ditingkat SMP dan SMA/SMK. Penjualan pun sudah masuk ke anak-anak sekolah.

Faktor hukuman bagi para pelaku yang terbilang cukup ringan ini menjadi penyebab masih eksisnya penjualan obat tersebut. Berbeda dengan kasus narkoba, para pelaku ini hanya dikenakan undang undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan.

“Mungkin ini penyebab masih eksisnya pelaku disetiap daerah. Jadi hanya dikenakan undang undang itu saja. Selain itu juga karena Psikotropika mahal, jadi lebih memilih obat kategori murah,” imbuhnya.

Meski demikian, Iman mengaku jumlah tahun ini cenderung menurun ketimbang tahun lalu yang mencapai 40 kasus. Akan tetapi kuantitasnya lebih banyak atau hampir menyebar ke sejumlah pelosok di kabupaten Majalengka.

“Dulu paling besar hanya ada di wilayah Jatiwangi saja. Sekarang hampir menyeluruh. Puskesmas diminta rajin melakukan penyuluhan ke desa dan sekolah. Karena pengguna beragam kadang anak SMP dan SMA,” paparnya. (ono)

Berita Terkait