Seru Perdamaian di Yaman, Putin Kutip Ayat Alquran

KTT ANKARA
Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan President Rusia Vladimir Putin berjabat tangan pada KTT di Ankara. (EUROPEANPHOTOPRESS AGENCY)

ANKARA – Peristiwa unik terjadi ketika Presiden Rusia Vladimir Putin, menyerukan perdamaian di Yaman. Ia mengutip salah satu ayat suci Alquran, tepatnya surat Ali Imran ayat 103.

“Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika mau dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya, kamu menjadi saudara,” kata Putin, Selasa (17/9).

Pernyataan itu diutarakan Putin dalam pernyataan bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Iran Hassan Rouhani setelah menggelar pertemuan tinggi.

Dikutip kantor berita RT, sebelum mengutip ayat suci Alquran tersebut, Putin telah meminta persetujuan dari Erdogan dan Rouhani.

Selain mengutip surat Ali Imran, Putin juga menyinggung ajaran Islam lain terkait bagaimana tindak kekerasan hanya dilegalkan untuk membela diri.

Ketiga pemimpin turut memperingatkan operasi militer koalisi Arab Saudi di Yaman sejak perang sipil melanda negara tersebut pada 2015 lalu.

Perang sipil Yaman yang telah terjadi sejak 2015 lalu dilihat secara luas sebagai perang proxy antara Saudi dan Iran, dua kekuatan besar di Timur Tengah. Saudi selama ini membantu pemerintah Yaman untuk memberangus Houthi yang diduga disokong Iran.

Selain membicarakan situasi di Yaman, Putin, Rouhani, dan Erdogan turut membahas situasi di Suriah, terutama ketegangan di wilayah Idlib.

Pertemuan tinggi ketiga pemimpin itu digelar untuk menemukan solusi gencatan senjata abadi di Suriah menyusul baku tembak antara pasukan Suriah dan pemberontak yang didukung Turki di Deir Ezzor. Serangan tersebut mengakibatkan salah satu dari 12 pos pengamatan militer milik tentara Turki hancur.

“Kita berada dalam periode ketika kita perlu mengambil banyak tanggung jawab untuk prdamaian di Suriah, ketika kami (Turki, Iran, Rusia) perlu memikul beban lebih,” ucap Erdogan.

Erdogan menuturkan, bahwa dirinya, Putin, dan Rouhani sepakat bahwa solusi politik diperlukan demi mengakhiri krisis di Suriah.

Meski begitu, ketiga pemimpin masih tidak satu suara terkait ancaman utama yang muncul di Suriah. Erdogan menganggap ancaman utama di Suriah saat ini datang dari kelompok pemberontak Kurdi yang selama ini dianggap Turki teroris.

Sementara itu, Putin masih menganggap ancaman utama saat ini masih terkait sel-sel tidur ISIS. Di sisi lain, Rouhani menganggap diplomasi merupakan satu-satunya solusi untuk menyelesaikan krisis di Suriah.

Rouhani juga menyerukan Amerika Serikat untuk menarik pasukan dari timur laut Suriah. “Diplomasi dan bukan konfrontasi (militer) bisa mengamankan perdamaian di Suriah,” kata Rouhani. (der/rts/fin)

Berita Terkait