Serbu Indramayu Barat, Komunitas Vespa Gembel Ganggu Lalu Lintas

Vespa-Gembel
GANGGU LALIN: Vespa gembel kuasi jalanan, kemarin. Pengguna Jalan Raya Patrol-Haurgeulis mengeluh. FOTO: KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU – Dua hari kemarin, Sabtu-Minggu (19-20/10), puluhan unit vespa gembel memadati Jalan Raya Patrol-Haurgeulis, Kabupaten Indramayu bagian barat (Umbar). Keberadaan mereka membuat pengendara lain mengeluh.

Bukan tanpa sebab, memiliki ukuran besar dan jalannya lambat, membuat arus lalu lintas tersendat. Tak cuma itu, memakan lebih dari separuh lajur, konvoi vespa gembel membahayakan keselamatan pengguna jalan.

“Kendaraan yang dari belakang susah mau nyalip. Mobil yang dari arah depan mesti minggir saat vespa gembel itu mau lewat. Bannya itu sampai makan lebih separuh jalan. Pakai dikawal kaya mobil pejabat,” keluh Yati, salah seorang pengendara.

Mirisnya, konvoi vespa gembel itu kerap bertabrakan ketika ada kendaraan anggotanya yang mogok. Bukannya menepi, mereka malah melanjutkan kendaraan dengan cara saling dorong. Karuan saja, arus kendaraan makin tersendat. “Kita yang di belakang kesal banget. Mau lewat saja susah,” ketusnya.

Dia mengaku tak habis pikir kenapa puluhan vespa gembel itu bebas berkeliaran di jalan umum. Saat situasi arus lalu lintas sedang ramai pula. Yati berharap, ada tindakan tegas terhadap vespa gembel yang menganggu arus lalu lintas.

Warga lainnya, Bandi mengungkapkan, rencananya para kelompok pecinta vespa gembel itu hendak mengikuti sebuah acara di salah satu desa di wilayah Inbar.
Acara tersebut merupakan pertemuan pemilik vespa dari berbagai jenis modifikasi. Namun, sebagian besar merupakan vespa gembel.

“Saya tahunya pas mereka lagi pada ngetem di pom bensin. Katanya baru ngikutin acara di Inbar. Ramai-ramai,” ujarnya.

Meski pernah menjadi bagian dari kelompok vespa gembel, Andi mengklaim sangat berbeda dibanding saat zamannya. Dulu, meski urakan, kelompok vespa gembel tetap tahu adab, menghormati pengguna jalan lain.

Semisal ketika hendak menghadiri sebuah acara, dia dan teman-temannya memilih waktu keberangkatan pada tengah malam atau dini hari. Hal itu menghindari keramaian serta polisi.

Pasalnya, sebagian besar vespa sampah tidak memiliki STNK atau BPKB. Kalau pun ada biasanya pajak mati atau kondisi kendaraan sudah tidak sesuai dengan yang tertera di surat. “Sekarang lihat mereka aja malas,” tandasnya. (kho)

Berita Terkait