Sekda Jabar Menghadiri Pembinaan Kegiatan Pertambangan Harus Minimalisir Dampak Negatif

SINERGIS: Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Daud Achmad membuka kegiatan Pembinaan Kegiatan Pertambangan Kepada Pemerintah Daerah dan Izin Usaha Pertambangan yang digelar Kementerian ESDM Republik Indonesia di Hotel Aston Bandung, kemarin (13/9).FOTO: BIRO HUMAS DAN KEPROTOKOLAN SETDA PEMPROV JABAR

BANDUNG – Provinsi Jawa Barat mempunyai potensi sumber daya mineral yang cukup besar. Namun, masih diperlukan sinkronisasi atau penyelarasan sejumlah aspek.

Hal ini disampaikan oleh Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Daud Achmad, saat menghadiri kegiatan Pembinaan Kegiatan Pertambangan kepada Pemerintah Daerah dan Izin Usaha Pertambangan yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia bertempat di Hotel Aston Bandung, kemarin (13/9).

Menurut Daud, di Jawa Barat, ada 357 Izin Usaha Pertambangan (IUP) operasi produksi dan 62 IUP operasi produksi khusus dengan jumlah produksi jutaan meter kubik dari beragam jenis bahan galian.

Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pertambangan menjadi sektor vital dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pembangunan baik bagi masyarakat maupun bagi sektor lainnya. Namun, di sisi lain terdapat aspek-aspek yang perlu diperhitungkan. Seperti aspek ekonomi, lingkungan, kebijakan dan kondisi eksternal lainnya.

“Diskursus antara pertambangan dengan sektor lainnya tersebut kerap terjadi, untuk itu diperlukan upaya-upaya penyelerasan dalam praktiknya,” tuturnya.

Kemudian, dia juga berujar bahwa kegiatan pertambangan harus bisa meminimalisir dampak negatif terhadap sosial dan lingkungan, juga mumpu dalam penyediaan data dan pelaporan.

“Kegiatan pertambangan yang ideal pun harus bisa mempraktikkan kaidah pertambangan yang baik dengan pembinaan, pengawasan, dan pengendalian yang berkelanjutan,” imbuhnya.

Dikatakan, usaha pertambangan harus mempunyai visi ke depan. Artinya, harus dikawal dengan regulasi yang aplikatif dan prorakyat, termonitor secara sistemik, sukses mempraktekan Good Mining Practices (GMP), berkontribusi signifikan dalam pemberdayaan dan pengembangan masyarakat, memiliki standar kerja yang membudaya, serta mempunyai kelembagaan yang jelas dan transparan.

Oleh sebab itu, Daud pun berharap kegiatan ini bisa menumbuhkan kesamaan nilai, komitmen, dan kepercayaan antara seluruh stakeholder di bidang pertambangan sehingga visi Jawa Barat Juara Lahir Batin dengan Inovasi dan Kolaborasi bisa terwujud.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap para pelaku usaha pertambangan di Jawa Barat dapat mendapatkan gambaran atas kebijakan pemerintah pusat mengenai arah kebijakan pertambangan di Indonesia ke depan,” pungkasnya. (jun)

 

Berita Terkait