Ribuan Warga Padati Puncak Muludan di Balong Kramat

Acara puncak muludan diisi dengan pengangkatan Buyut Kayu Perbatang di Balong Kramat Desa Kertawinanangun, Kecamatan Kedawung, Kabuapten Cirebon, Minggu (17/11). FOTO: IST

CIREBON-Ribuan masyarakat dari Wilayah Cirebon dan sekitarnya menghadiri prosesi pengangkatan Buyut Kayu Perbatang di Balong Kramat Pangeran Mancur Jaya Desa Kertawinanangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Minggu (17/11).

Ritual pengangkatan Buyut Kayu Perbatang ini dilaksanakan bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW (Muludan) yang setiap tahun dilakukan di daerah tersebut. Buyut Kayu Perbatang sendiri diyakini sebagai kayu bekas tempat duduk Pangeran Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana) saat melaksanakan tugas dari keraton untuk mencari sumber mata air.

Menurut Juru Kunci Situs Balong Keramat Pangeran Mancur Jaya, Raden Moh Suparja, puncak acara muludan alias pelal di Desa Tuk, diperingati setiap tanggal 19 Rabiul Awal, atau seminggu setelah puncak muludan di Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon.

Raden Suparja mengatakan, ritual pengangkatan kayu keramat Pangeran Mancur Jaya, dimulai dengan pembacaan salawat Nabi SAW. Setelah dikumandangkan azan oleh seorang muazin, tujuh orang kemudian menyelam ke dasar balong keramat untuk mengangkat kayu tersebut. Kayu berukuran panjang kurang lebih dua meter tersebut kemudian diterima oleh empat orang, lalu dimandikan dengan air kembang dan kemenyan.

Raden Suparja menjelaskan, Pangeran Mancur Jaya menemukan kayu perbatang jam 09.00 tanggal 19 Rabiul Awal. Kayu tersebut adalah bekas tempat duduk Raden Walangsungsang ketika bertapa, yang ditemukan Pangeran Mancur Jaya ketika ia diperintahkan pihak keraton untuk mencari sumber air kala terjadi kekeringan panjang di wilayah Cirebon. “Air dari balong keramat yang dipakai untuk memandikan kayu tersebut, dipercaya oleh masyarakat dapat memberikan aura yang positif dan membuang kesialan. Sehingga orang-orang berebut air keramat tersebut,” katanya.

Raden Suparja menambahkan, pada malam hari sejumlah pusaka peninggalan Pangeran Mancur Jaya, Pangeran Jaka Tawa, dan Pangeran Matang Aji, seperti pusaka si kober, trisula, tombak, keris, golok warangan, pendil sewu dan pusaka lainnya diarak keliling desa. “Arak-arakan ini dipimpin oleh juru kunci dan diikuti oleh para sesepuh dan tokoh masyarakat, Laskar Macan Ali dan sejumlah masyarakat lainnya. Setelah dilakukan acara arak-arakan kemudian dilanjutkan dengan marhabanan,” ujarnya.

Seusai marhabanan, lanjutnya, Buyut Kayu Perbatang yang sudah dimandikan dan dikafani kemudian dimasukan kedalam balong (kolam), dan didahuli kumandang azan. “Ritual muludan di Balong Kramat Pangeran Mancur Jaya berakhir dengan dimasukannya kembali Buyut Kayu Perbatang ke dalam Balong Kramat tersebut,” katanya.

Pada prosesi muludan kali ini juga dilaksanakan sejumlah kegiatan diantaranya festival tari topeng  dan penampilan sintren serta sejumlah kesenian tradisional lainnya. Dirinya berharap kondisi Cirebon ke depan akan menuju kearah kemakmuran, aman dan tentram. (rls/den)

Berita Terkait