Retribusi TPI Kejawanan Dianggap Sudah Maksimal

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kejawanan.FOTO:ABDULLAH/RADAR CIREBON

CIREBON-Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi tempat pelelangan ikan (TPI) dianggap terlalu kecil. Juga tidak mencerminkan potensinya. Namun, menilik kondisi tangkapan nelayan dan aktivitas pelelangan ikan, perolehan yang ada sekarang dianggap wajar.

Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan, Dinas Pangan Peternakan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kota Cirebon Ir Erythrina menjelaskan, besaran pendapatan sektor retribusi bergantung pada hasil tangkap ikan nelayan. “Sekarang retribusi dipungut 2 persen. Itu karena TPI Kejawanan dikelola langsung dinas. Kalau dikelola koperasi, retribusinya memang bisa 5 persen,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Berdasarkan data DPPKP, sampai September 2019, pajak retribusi yang diterima dari TPI Kejawanan mencapai Rp189 juta. Merujuk data ini, Erythrina optimis retribusi yang akan disetorkan ke kas daerah, bisa lebih dari yang dicapai pada tahun lalu yakni Rp250 juta.

Soal rujukan PAD DPRD kepada TPI Karangsong, pendapatan dari TPI Kejawanan memang tidak ada apa-apanya. Erythrina merasa perbandingan ini tidak apple to apple. Misalnya, panjang garis pantai Kota Cirebon hanya 7 kilometer. Jauh dari Kabupaten Indramayu dan daerah Karangsong itu sendiri.

Faktor lain adalah luas perairan dan jenis tangkapan ikan. “Saya kira wajar. Karangsong tangkapan ikan yang masuk juga lebih dari 450 ribu ton per tahun. Kota Cirebon ini dapat Rp250 juta saya kira itu sudah bagus dan melebihi,” katanya.

Eri mengatakan, Setiap tahun setidaknya terdapat 200 kapal besar yang berlabuh di PPN Kejawanan. Angka itu meningkat dibanding tahun tahun sebelumnya yang hanya 160 kapal saja.  Minimnya jumlah kapal yang berlabuh disebabkan karena kecilnya kapasitas kolam ikan yang menampung kapal-kapal besar.

Sementara hasil tangkapan nelayan yang masuk ke TPI Kejawanan setiap tahunya hanya mencapai 4 ribu ton saja. Sudah begitu, tidak semua ikan terkena retribusi karena beberapa jenis ikan yang menjadi umpan. Dari jumlah tangkapan 4 ribu ton itu, yang dikenai retribusi hanya 3 ribu ton.

Sebelumnya, Anggota DPRD dari Fraksi Nasdem Ir H Watid Sahriar menilai, TPI Kejawanan mestinya bisa memberi kontribusi besar pada PAD. Dibeberkan dia, retribusi yang selama ini masuk ke PAD hanya Rp240 juta per tahun. Padahal TPI Kejawanan adalah TPI Nusantara. Dirinya membandingkan dengan di TPI Karangsong  Indramayu yang bisa memberikan PAD dari retribusi hingga Rp10 miliar per tahun. “Harusnya Kejawanan bisa lebih dari itu,” kata Watid. (awr)

Berita Terkait