Ratusan PNS di Kuningan Terima Surat Keputusan Pensiun

PNS-Pensiun
SERAHKAN SK: Wakil Bupati Kuningan HM Ridho Suganda menyerahkan SK Pensiun kepada Asda II Dadang Supardan dan Asda I Maman Hermansyah, Rabu (13/11). Foto: Agus Panther/Radar Kuningan

KUNINGAN – Sebanyak 130 Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan menerima SK Pensiun TMT 01 Januari hingga 01 Maret 2020. Surat Keputusan (SK) Pensiun diberikan langsung Wakil Bupati HM Ridho Suganda di Hotel Purnama Mulia Cigugur Kuningan, Rabu (13/11).

“Hari ini akan diserahkan SK Pensiun dan pelepasan masa purna bhakti PNS yang akan mencapai batas usia pensiun 01 Januari sampai dengan 01 Maret tahun 2020. Ada sebanyak 130 orang PNS yang memasuki masa pensiun,” kata Wakil Bupati HM Ridho Suganda saat membacakan sambutan Bupati Kuningan, Acep Purnama.

Dalam kesempatan itu, lanjutnya, bagi penerima SK Pensiun mengisi formulir permintaan pembayaran sebagai program layanan klaim otomatis Taspen. Tujuannya memberikan pelayanan prima untuk mempermudah dalam pengajuan pembayaran hak pensiun berupa gaji pensiun pertama dan tabungan hari tua.

Nantinya, uang itu dapat dibayarkan langsung sesuai TMT pensiun tanpa melalui proses penyelesaian administrasi ke kantor Cabang PT Taspen.

“SK Pensiun yang diberikan beberapa bulan sebelum memasuki masa pensiun, dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kepada para pegawai yang akan memasuki batas usia pensiun. Kami pemerintah Kabupaten Kuningan tidak mengharapkan bapak/ibu yang telah menerima SK pemberhentian dengan hormat sebelum berlakunya keputusan dimaksud, malah mengalami penurunan kinerja bahkan menjadi bermalas-malasan,” tandasnya.

Ridho menegaskan, walaupun SK Pensiun telah diterima, namun penilaian prestasi kerja pegawai akan tetap berlangsung hingga memasuki masa pensiun. Sangat tidak diharapkan dan jangan sampai terjadi, bagi PNS yang menjelang pensiun dikenakan sanksi sesuai dengan PP Nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin PNS.

“Hidup kita dapat diasumsikan dari proses keberadaan kita, mulai dari dalam kandungan kemudian lahir ke dunia, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, masa tua dan terakhir dipanggil untuk kembali kepada Sang Pencipta Allah SWT. Hal ini merupakan suatu proses perjalanan yang harus kita jalani,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ia menilai, salah satu faktor utama penyebab timbulnya kecemasan adalah penghasilan semasa aktif yang tidak mencukupi untuk keperluan hidup. Apalagi setelah memasuki purna bhakti, segala fasilitas yang ada akan hilang.

“Jadi seolah-olah merasa hidupnya terasing seorang diri, dan menyebabkan semangat hidup menurun. Untuk mengurangi rasa kecemasan dan keterasingan yang mungkin timbul, para purna bhakti saya harapkan dapat melibatkan diri alam berbagai bentuk kegiatan sosial maupun organisasi kemasyarakatan,” pungkasnya. (ags)

Berita Terkait