Rajab dan Kamtiah, Pasutri yang Memilih Bertahan di Tenda Darurat Pinggir Jalan

Ingin Terus Kerja, Sampai-sampai Kades “Ditegur” Camat

Hidu di Gubuk
Pasutri Rajab dan Kamtiah saat ditemui Radar Cirebon di gubuk tempat tinggal mereka di Desa Sarewu, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan.FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

KUNINGAN-Tenaga Kamtiah seperti tak ada habisnya. Wanita 68 tahun itu tak kehilangan semangat untuk menghidupi keluarganya, meskipun harus tinggal bertahun-tahun di tenda darurat di pinggir jalan Desa Sarewu, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan.

Matahari baru saja terbit. Kamtiah mulai bergegas ke  sungai. Ibu empat orang anak itu berjalan sekitar 15 meter dari gubuk kecil yang sudah menjadi tempat berteduh dari terik matahari dan dinginnya malam selama kurang lebih 19 tahun.

Meski bukan tempat tinggal permanen, tapi gubuk berukuran 2 Mx2,5 M tersebut sudah menemani Kamtiah dan suaminya, Rajab (82), ketika memutuskan bekerja sebagai pemecah batu kali. Suara hantaman palu membentur batu terdengar begitu keras. Begitu pecah menjadi bagian kecil, langsung diganti lagi dengan batu yang agak besar dan kemudian dipukul lagi hingga hancur.

Tak disangka, di balik tubuh rentanya, Kamtiah masih mampu seharian penuh memecahkan batu kali di samping gubuk. Batu-batu berukuran kecil hingga sedang di pinggiran Sungai Sarewu dikumpulkan oleh Kamtiah seorang diri. Sudah lebih dari 8 bulan Kamtiah menjadi tulang punggung keluarganya ketika Rajab sudah mulai kehilangan tenaganya akibat sakit dan usianya yang terus menua.

“Saya kumpulin dulu batunya terus digendong ke dekat gubuk. Saya sudah tua, tidak bisa bawa banyak-banyak. Sekuatnya saja. Kalau lagi kuat bisa beberapa kali ambil ke sungai. Yang cape bukan ambil batunya, tapi pas mecahin pakai palu, mesti keras dan kuat. Sejak bapak sakit, semuanya dikerjain sendiri,” ujar Kamtiah kepada Radar Cirebon.

Kamtiah dan Rajab menggantungkan nasib dari penjualan batu yang mereka pecahkan. Tidak banyak yang bisa dikumpulkan. Dalam satu hari, keduanya paling-paling bisa mengumpulkan lima pengki. Itu pun tidak bisa dijual setiap hari. Keduanya harus menunggu pembeli yang datang sendiri ke gubuk mereka. “Lima pengki itu sekitar 30 ribu. Kalau harga per pengki itu Rp6 ribu. Jadi sehari paling besar Rp30 ribu. Sering kurang dari angka itu, kalau lebih kayaknya tidak pernah,” imbuhnya.

Penghasilan itulah yang membuat Kamtiah dan Rajab jarang sekali pulang ke rumah kontrakan mereka di Kondangsari. Pasalnya, untuk sekali ongkos pulang pergi dari rumah kontrakan ke lokasi kerja biaya yang dikeluarkan sekitar Rp30 ribu. “Kalau tiap hari pulang otomatis tidak punya tabungan buat bayar kontrakan. Emak tidak punya rumah. Empat anak emak sudah menikah dan kondisi ekonominya sama dengan emak. Kadang malah minta jajan ke sini,” jelasnya.

Setiap bulan, Kamtiah harus membayar sewa kontrakan sebesar Rp600 ribu. Jumlah tersebut belum termasuk membayar langganan air sebesar Rp250 ribu per tiga bulan, ditambah biaya listrik Rp50 ribu per bulan. Namun, meskipun setiap hari tinggal di gubuk, bukan berarti kontrakan Kamtiah kosong. Saat ini ada cucunya yang tinggal di rumah tersebut sambil menjaga kontrakan. “Mending tinggal ke sini ketimbang bolak-balik ke kontrakan setiap hari. Pagi-pagi bisa kerja, bisa buat makan dan bisa nabung buat bayar kontrakan,” paparnya.

Diakui Kamtiah, gubuknya tersebut memang tak layak ditinggali. Bagaian atasnya ditutup dengan terpal dengan ketinggian sekitar 1 meter. Sementara dindingnya sebagian terdiri dari runtuhan bangunan dan sebagian terpal. Sementara untuk lantainya, hanya dialasi terpal dan karung. “Suka kerasa kalau sore sama pagi. Pinggang sakit dan suka pusing-pusing. Tapi mau bagaimana lagi, kalau gak kerja di sini siapa yang mau ngasi makan. Emak mau di sini sampai gak bisa kerja lagi. Apalagi bapak sudah sakit dan gak bisa kerja,” katanya.

Sementara itu sang suami, Rajab, mengatakan dulunya ia merupakan warga Kecamatan Sedong. Kini ia dan istrinya kini sudah ber-KTP Desa Sarewu. Saat masih sehat, ia sering berkunjung ke kerabatnya. Semenjak sakit, Rajab sudah tak bisa ke mana-mana dan hanya membantu istrinya bekerja memecahkan batu. “Pinggang bapak bengkak jadi susah jalan. Mending di sini, di gubuk ini, daripada di kontrakan. Sekarang sudah 8 bulan susah jalan,” akunya.

Terpisah, Kepala Desa (Kades) Sarewu Ade Supriadi membenarkan keberadaan salah satu warganya yang tinggal di gubuk itu. Namun Ade memastikan selama ini pihaknya sudah berupaya agar pasutri tersebut tidak lagi menempati gubuk tersebut. Sebagai solusinya, mereka diperbolehkan menempati rumah layak yang disediakan pemerintah desa.

“Sejak kepala desa terdahulu sampai saya sekarang pun sudah berupaya agar keluarga Pak Rajab tak lagi tinggal atau menempati gubuk tersebut. Banyak rumah kosong di Desa Sarewu yang bisa ditempati. Tetapi keduanya menolak dan memilih tinggal di sana,” katanya saat dikonfirmasi Radar Cirebon.

Ade mengatakan, sebenarnya Rajab dan istrinya punya anak-anak yang terbilang mapan dan tinggal di rumah yang lebih layak di Desa Sarewu. Bahkan, sambung Ade, Rajab dan istri pun menempati rumah kontrakan di Desa Kondangsari.

“Kehidupan Pak Rajab dan istrinya di gubuk ini sudah beberapa kali ramai di media sosial. Sampai-sampai saya dipanggil camat untuk menjelaskan persoalan tersebut. Sudah saya terangkan keadaannya, sampai Pak Camat sendiri datang langsung menemui Pak Rajab dan membujuk untuk menempati rumah yang lebih layak yang disiapkan, namun mereka selalu menolak,” papar Ade.

Ia kembali menegaskan pemdes tak tinggal diam dengan kondisi itu. “Kami dari pemerintah desa dan BPD Sarewu sampai Kecamatan Pancalang tidak tinggal diam dan sudah melakukan berbagai cara agar keluarga Pak Rajab bisa menempati rumah yang lebih layak, tapi tampaknya mereka lebih suka hidup seperti itu. Maka kami pun tidak bisa memaksa,” pungkasnya. (dri/fik)

Berita Terkait