PPDB Sistem Zonasi, SMA Cokro Hanya Punya 2 Siswa Baru

Hari pertama sekolah di SMA Cokroaminoto, Senin (15/7), diisi dengan bersih-bersih ruang kelas. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Hari pertama sekolah di SMA Cokroaminoto, Senin (15/7), diisi dengan bersih-bersih ruang kelas.FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Momen hari pertama sekolah kerap disambut antusias oleh siswa maupun tenaga pengajar. Biasanya momen hari pertama dimulai dengan masa pengenalan siswa baru. Namun antusias tersebut tak terlihat di SMA Cokroaminoto. Di sekolah yang ada di Jl Siliwangi, Kota Cirebon itu hanya terlihat beberapa siswa kelas XI dan XII.

Kepala SMA Cokroaminoto Drs Moh Tajudin mengatakan di hari pertama sekolah Senin (15/7) justru siswa baru belum bisa hadir. Siswa baru tersebut justru baru bisa masuk sekolah di hari kedua hari ini. Adapun jumlah siswa baru di tahun ini berjumlah dua orang (sebelumnya disebut 1 siswa). Kedua siswa baru itu berasal dari Talun dan Pasindangan. “Tadinya kami menerima satu siswa, tapi ada tambahan satu lagi. Sayang keduanya baru bisa masuk di hari kedua sekolah (hari ini, red),” tuturnya kepada Radar Cirebon.

Di hari pertama sekolah itu, 19 siswa yang terdiri dari 8 siswa kelas XI dan 11 siswa kelas XII. Di hari pertama sekolah mereka pun hanya kerja bakti membersihkan kelas. Kegiatan belajar efektif pun baru akan dimulai di Selasa (16/7). Tajudin menuturkan, perolehan siswa baru tahun ini sangat jauh terburuk dari sebelumnya.

Hal ini menurutnya karena pengaruh sistem zonasi. Siswa SMA Cokro sebagian berasal dari Cirebon Utara, namun saat ini sudah berdiri pula SMK di daerah tersebut seperti di daerah Mayung dan Kapetakan. “Sekolah baru inilah yang menyedot siswa sehingga kami kehabisan siswa,” tuturnya.

Lanjutnya, jika setiap tahunnya siswa terus berkurang seperti saat ini ia sangat khawatir akan dibawa kemana SMA Cokroaminoto. Ia pun sudah terus melakukan upaya untuk mendapatkan akreditasi, untuk mendapatkan bantuan. Pasalnya dengan jumlah siswa yang ada biaya operasional pun tak tertutupi.

Namun dalam melakukan akreditasi jumlah murid salah satunya yang paling menentukan. “Kami tidak bisa melakukan akreditasi karena terpentok di jumlah murid,” terangnya. Sementara itu, saat ini SMA Cokroaminoto memiliki 12 tenaga pengajar. Dalam mensiasati menambahkan jumlah siswa ia pun melakukan door to door. “Dalam mencari siswa kami gunakan sistem angkot, kapan pun ada yang mau masuk kita siap angkut,” tukasnya.

Ia pun berharap penambahan siswa pun bisa terjadi, pasalnya setiap tahun ajaran ada saja tambahan siswa dari beberapa siswa yang pindah sekolah. Baik beberapa minggu setelah hari pertama masuk sekolah maupun saat pertengahan semester. (apr)

Berita Terkait