Planet Bercincin Saturnus Bisa Diamati dengan Mata Telanjang, Ini Jadi Waktu Terbaik untuk Mengamatinya

Dari peta rasi bintang ini, Saturnus (Saturn) akan terlihat di arah timur hingga tenggara, sebab berdekatan dengan rasi bintang kalajengkin (Scorpius). (screenshot via in-the-sky.org)

MALAM ini, akan terjadi peristiwa oposisi Saturnus. Planet Saturnus akan tampak bersinar putih kekuningan dengan kecerahan sedang saat diamati dari Bumi pada malam ini (9/7) atau dikenal dengan istilah oposisi Saturnus.

Ketua Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan fenomena oposisi Saturnus bisa diamati dari seluruh Indonesia. “Fenomena oposisi Saturnus bisa dilihat di seluruh wilayah Indonesia sejak maghrib sampai menjelang matahari terbit,” ucap Thomas, Selasa (9/7).

Menyoal waktu terbaik, Thomas mengatakan fenomena ini bisa diamati mulai Magrib (sekitar pukul 18.00 WIB) hingga tenggelam pada Rabu (10/7) pagi pukul 05.26 WIB.

Saturnus akan terbit di timur pada saat matahari tenggelam, terus menanjak saat tengah malam, dan akan tenggelam di barat saat matahari terbit. Dalam posisinya yang berlawanan dengan Matahari ini, Saturnus berada dalam posisi pengamatan terbaik sehingga bisa terlihat sepanjang malam, seperti dilansir Earth Sky.

Mengutip In the sky, fenomena alam ini disebut oposisi Saturnus karena Bumi tengah mengorbit di antara Saturnus dan Matahari. Secara singkat, Matahari-Bumi-Saturnus tengah nampak berbaris lurus di bidang tata surya.

Ketika Bumi dengan planet superior ada di posisi sejajar, biasanya planet superior itu tengah berada pada orbit terdekatnya dengan Bumi. Saturnus merupakan bagian dari planet superior, yaitu planet yang orbitnya ada di luar orbit Bumi (planet lain kecuali Merkurius dan Venus).

Posisi Saturnus yang berlawanan (beroposisi) dengan Matahari sepanjang Juli hingga September, membuat planet itu mendapat pantulan sinar lebih baik dari Matahari. Sehingga membuat Saturnus tampak lebih terang dari biasanya ketika diamati dari Bumi. Kecerahan ini membuat pengamat bisa mengamati cincin es disekeliling planet tersebut dengan teleskop.

Setiap planet dan bintang umumnya memiliki orbit berbentuk elips. Sehingga tiap benda langit ini memiliki jarak terdekat dan jarak terjauh dari Matahari dan benda langit lainnya.

Planet bercincin yang berada di konstelasi Sagitarius ini pada saat oposisi akan berada pada jarak 9,03 AU (1 AU= 150 juta km) dari Bumi. Saat diamati dari Bumi, Saturnus diameter sudut 18,4 detik busur dan bersinar dengan magnitudo visual 0,1. Dengan kata lain saat matahari terbenam, Saturnus baru nampak untuk diamati.

Kendati Saturnus bisa diamati sepanjang malam, planet ini mulai bisa diamati di ufuk timur setelah matahari tenggelam atau sekitar pukul 18:30 WIB. Planet Saturnus akan berada di titik tertingginya pada 23:55 WIB dan tenggelam di ufuk barat pada 05:26 WIB.

Oposisi Saturnus bisa diamati dari Jakarta baik dengan mata telanjang, maupun menggunakan teleskop. Fenomena serupa berikutnya akan terjadi pada 21 Juli 2020, 2 Agustus 2021, dan 14 Agustus 2022. (*)

Berita Terkait