Petani Jagapura Wetan Dilema, Minta Harga Air Turun

SEDOT: Kelompok petani berada di sungai pembuang Kumpul Kuista yang sedang dilakukan peyedotan guna mengaliri sawah-sawah mereka. FOTO: ADE GUSTIANA / RADAR CIREBON
SEDOT: Kelompok petani berada di sungai pembuang Kumpul Kuista yang sedang dilakukan peyedotan guna mengaliri sawah-sawah mereka.FOTO: ADE GUSTIANA / RADAR CIREBON

CIREBON – Kelompok petani di Desa Jagapura Wetan, Kecamatan Gegesik, merasa dilema menyambut musim tanam. Banyak faktor yang melatarbelakangi. Salah satu yang paling di anggap krusial adalah ketersediaan pasokan air.

Belum lagi, mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengalirkan air ke irigasi sekunder yang bersumber dari sungai pembuang Kumpul Kuista di dekatnya.

“Per 1 hektare lahan pertanian atau selama semusim, petani harus membayar Rp1,2 juta guna mengairi sawah-sawah mereka. Saya mohon adanya kebijakan dari pemerintah daerah atau pusat untuk memangkas biaya membeli air yang sangat mahal.

KERING: Kelompok petani berada di saluran irigasi sekunder yang mulai mengering akibat musim kemarau. FOTO: ADE GUSTIANA / RADAR CIREBON
KERING: Kelompok petani berada di saluran irigasi sekunder yang mulai mengering akibat musim kemarau.
FOTO: ADE GUSTIANA / RADAR CIREBON

Kiranya bisa menjadi Rp600 ribu, itu sangat membantu,” ujar Ketua Gapoktan Kecamatan Gegesik, Uug Kujaeni kepada Radar Cirebon,(17/6).

Uug mengatakan, persemaian padi di desanya akan berlangsung sekitar 7 hari. Luas lahan pertanian di Desa Jagapura Wetan sendiri, sekitar 500 hektare. Salah seorang petani di desa tersebut, Dani mengatakan, dengan mahalnya biaya mendapatkan air dalam semusim, dirasa sangat memberatkan.

Terlebih, banyak kebutuhan lain yang harus dikeluarkan selama masa tanam hingga panen. Seperti biaya membeli pupuk, kebutuhan obat untuk menghindari hama, sewa alat pertanian, dan semacamnya.

“Satu kali musim, biaya keseluruhan bisa menghabiskan Rp7 juta. Ditambah lagi harga jual hasil tani yang turun. Ini tentu sangat memberatkan kita sebagai petani. Mohon kiranya kepada pengatur kebijakan, untuk membantu meringankan beban petani.

Yang mana, Desa Jagapura merupakan lumbung padi. Baik itu bantuan ketersediaan air atau memangkas biaya untuk mengalirkan air dari sungai ke sawah,” harapnya.

Dani menambahkan, sungai pembuang Kumpul Kuista akan dengan cepat surut ketika musim tanam serentak dilakukan. Kondisi itu, sudah lumrah diketahui petani karena terjadi setiap tahun.

Akibatnya, lahan pesawahan yang letaknya paling jauh dari sungai pembuang Kumpul Kuista, tidak teraliri air dan terancam gagal panen.

Jika telah surut, solusinya adalah menunggu giliran datangnya air dari Bendungan Rentang yang dilakukan bergilir. “Karena, sungai pembuang Kumpul Kuista bukan hanya digunakan untuk sawah. Akan tetapi, juga banyak digunakan untuk keperluan masyarakat lainnya,” ungkap dia. (ade)

Berita Terkait