Perahu Tembon, Perahu Cepat Utara Jawa Tempo Dulu

Jenis Perahu Tembon 1940 (Foto. D_Handycraft FB)

INDONESIA adalah negara maritim yang berbentuk kepulauan (archipelagostate). Karena hampir dua pertiga luas wilayah Indonesia adalah lautan yang ditaburi oleh kurang lebih 17.000 pulau-pulau besar dan kecil yang membujur kurang lebih 5000 km sepanjang khatulistiwa.

Luas daratan Indonesia mencapai 1.922.570 km2, dan luas perairan 3.257.483 km2. Selain sebagai Negara kepulauan, sejarah juga menceritakan bahwa bangsa Indonesia sejak dahulu telah menguasai jalur pelayaran laut dengan armada yang cukup tangguh. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan-temuan situs prasejarah maupun sejarah.

Penemuan situs prasejarah di gua-gua Pulau Muna, Seram dan Arguni yang dipenuhi oleh lukisan perahu-perahu layar, menggambarkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia merupakan bangsa pelaut. Fakta ini juga di perkuat dengan adanya relief kapal yang terdapat di Candi Borobudur yang berangka tahun 1 masehi.

Bahkan, ketangguhan dan kehebatan nelayan tradisional tempo dulu bisa kita lihat dari perahu-perahu tradisional yang dipakai untuk berlayar mencari ikan dan alat transportasi, salah satunya adalah adalah Perahu Tembon.

Menurut Kang Tasoeka bahwa perahu tradisional jenis Tembon ini dahulu pernah menjadi andalan para pelaut (Nelayan) di pesisir utara pulau jawa untuk melakukan aktifitasnya baik untuk mencari ikan juga untuk angkutan barang antar pulau.

Namun, tulis Kang Tasoeka dalam artikelnya berjudul Mengenal Perahu Tembon Perahu Super Cepat Tempo Dulu dekade tahun 1980an perahu jenis ini sudah mulai di tinggalkan karena beberapa faktor penyebab, di antaranya setelah terjadinya gelombang mekanisasi perahu, jenis ini di anggap tidak efesien dan bentuknya di anggap kurang menarik sebab pembuat perahu kiblatnya beralih ke bentuk kapal yang dianggap lebih modern, padahal pada jaman dahulu semua perahu tradisional masih menggunakan layar sebagai alat penggerak utamanya, perahu jenis Tembon ini terkenal akan kelajuannya.

Mengutip sumber lain, Ensiklopedia Jakarta jenis perahu nelayan yang terdapat di Teluk Jakarta sampai Anyer dan daerah-daerah lain seperti Gebang, Cirebon, dan Indramayu ini. Disebut juga perahu compreng. Kadangkala disebut juga bondet jika perahu ini menggunakan alat penangkap ikan, yaitu payang bondet.

Perahu tembon banyak diproduksi di Gebang, satu desa nelayan berjarak 10 km timur Cirebon. Ukuran perahu ini bervariasi, ada kecil, sedang dan besar. Kecil, berukuran 6×1,50×0,50 m, ukuran sedang sampai besar antara 9,50-15×2,25-3×1, 10-1,50 m, terbuat dari kayu jati, berlinggi depan tinggi dan lancip. Tinggi linggi (bagian kepala depan kerangka perahu) depan 2,33 m dan bagian yang terlebar 0,86 m. Linggi belakang tingginya 0,85 m. Perahu tembon dicat dengan warna-warni cerah, merah, putih, kuning, hijau, biru dengan motif hiasan beranekaragam diantaranya gelombang, untaian bunga, dan daun.

Bagian perahu tembon terdiri dari kerangka dasar, yaitu lunas, linggi atau kepala perahu depan dan belakang, gading-gading, tiang layar di bagian tengah dekat haluan. Di buritan terdapat sanggan layar, dan sumbi-sumbi tempat gagang kemudi diletakkan, sepotong papan di atas badan perahu kiri dan kanan, yang disebut dapur yang diatasnya ditancapkan sanggan layar yang bentuknya seperti sayap burung sedang terbang sebagai tempat meletakkan layar yang digulung.

Umumnya diukir dan diberi cat warna-warni. Di depan sanggan layar tertancap pula sebatang balok bermotif totem dengan cat warna-warni yang disebut sumbing dan berfungsi untuk tempat meletakkan gagang kemudi sewaktu perahu sedang berlayar. Kemudi terbuat dari kayu jati berukuran 3,40 x 0,26 x 0,09 m.

Di atas perahu terdapat papan-papan dek yang disebut tataban. Badan perahu kiri dan kanan disebut golak kiri dan golak kanan dibuat dari papan-papan dek yang disebut golak kiri dan golak kanan yang dibuat dari papan-papan kayu jati. Di bagian tengah di atas perahu terdapat sepotong papan yang letaknya lebih tinggi beberapa sentimeter dari tataban, di atas papan yang disebut pulangan ini terdapat lobang tempat tiang layar diletakkan.

Pada tembon besar terdapat andang-andang, yaitu bambu-bambu yang letaknya melintang sejajar dengan panjang perahu di bagian tengah dari tiang layar sampai di atas sanggan layar, biasanya terdapat dua jajar andang-andang, atas dan bawah. Andang-andang berfungsi sebagai tempat menggantung peralatan dan perlengkapan menangkap ikan, berupa keranjang-keranjang ikan yang disebut loak, dan alat menangkap ikan yaitu jala dan jaring dogol. Perahu tembon menurut ukurannya digunakan oleh 2, 3, atau 7 orang nelayan. (*)

 

Berita Terkait