Pemkab Kuningan Serius Tangani Stunting

stunting-3
PENANGANAN: Bunda PAUD Hj Ika Purnama (tiga dari kanan) dan Kabid PAUD/Dikmas Elon Carlan (tiga dari kiri) membahas penanganan stunting, kemarin. Foto: Agus Panther/Radar Kuningan

KUNINGAN – Pemerintah daerah kini makin serius menangani soal stunting. Bahkan pencegahan stunting menjadi tanggung jawab bersama, termasuk institusi pemerintah di bidang pendidikan.

Hal ini dibuktikan, adanya rapat koordinasi antara Bunda PAUD Kuningan Hj Ika Acep Purnama bersama Kabid PAUD Dikmas Disdikbud Elon Carlan, Wakil Ketua TP PKK Kuningan Hj Yuana Ridho Suganda, dan Ketua Dharma Wanita Persatuan Hj Ella Dian. Hadir pula Bunda PAUD Kecamatan dan Kasie Kesra Kecamatan sewilayah Kuningan di ruang rapat Linggajati Setda Kuningan, Kamis (17/10).

Kabid PAUD Dikmas Disdikbud Elon Carlan menyatakan, bahwa Bidang PAUD Dikmas merupakan bagian dari Pokja Stunting dan mendapatkan anggaran dari Direktorat Pendidikan Keluarga. Targetnya yakni Bunda PAUD Kecamatan dan Kasie Kesra Kecamatan dapat turun tangan langsung ke desa-desa, agar turut serta bergandeng tangan dengan para pengelola TK, RA, Kelompok Bermain bersama-sama mengajak para orang tua memahami permasalahan Stunting.

“Yang diharapkan oleh kami, tujuan akhirnya adalah mulai dari hari ini mohon kerjasama kepada Bunda PAUD Kecamatan dan Kasie Kesra bersama-sama mulai menyentuh lembaga-lembaga TK, RA, dan lain-lain. Diawali dengan mengkampanyekan penanganan stunting, yang salah satunya akan dilakukan pencanangan gerakan minum susu di daerah lokus stunting,” papar peraih PNS Berprestasi tingkat provinsi itu.

Elon meminta agar seluruh kecamatan dan desa se-Kabupaten Kuningan di luar lokus stunting, agar turut melaksanakan kegiatan gerakan minum susu secara serentak di masing-masing desa maupun kelurahan sewilayah Kuningan.

“Peran masyarakat sangat dibutuhkan dalam penanganan stunting terutama yang berada di lokus stunting. Sekali lagi, kami berharap agar masyarakat benar-benar ikut andil dalam kegiatan ini,” tegas Elon.

Sementara Bunda PAUD Kuningan Hj Ika Acep Purnama menjelaskan, bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Sehingga anak secara fisik terlihat pendek dibandingkan dengan usianya. “Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada awal setelah bayi lahir. Nah kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia dua tahun,” terangnya.

Dia menyebutkan, beberapa penyebab stunting yakni anak sering sakit terutama diare, campak, TBC dan penyakit infeksi lainnya. Kemudian pula akibat keterbatasan air bersih dan sanitasi yang buruk, serta ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga yang rendah.

“Lalu dampak yang ditimbulkan oleh stunting dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Jika dalam jangka panjang yaitu menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh, sehingga mudah sakit dan resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke dan disabilitas pada usia tua,” bebernya.

Oleh sebab itu, Ia menekankan, salah satu upaya penanganan stunting akan dilaksanakan kegiatan Gerakan Minum Susu Gratis bagi anak usia 0-6 tahun di Satuan PAUD (TK, RA, Kober, SPS, TPA) di 10 desa penanganan stunting tahun 2019. (ags)

Berita Terkait