Pembunuh Santri Terima Vonis Hakim, Penjara 13 dan 10 Tahun serta Denda Rp1 Miliar

JALANI HUKUMAN: Yadi Supriyadi (kanan) dan Rizki Mulyono saat sidang di PN Cirebon, kemarin (14/1).FOTO: NURHIDAYAT/RADAR CIREBON

CIREBON- Tuntas sudah proses persidangan bagi dua terdakwa pembunuh santri Ponpes Husnul Khotimah Kuningan Muhammad Rozien. Dua orang terdakwa, Yadi Supriyadi alias Acil (19) dan Rizki Mulyono alias Nono (18) divonis masing-masing 13 dan 10 tahun penjara. Mereka juga dibebankan denda sebesar Rp1 miliar subsider 3 bulan kurungan penjara.

Vonis tersebut dibacakan majelis hakim dalam sidang putusan yang digelar di Ruang Garuda Pengadilan Negeri (PN) Cirebon pada Selasa (14/1). Dalam amar putusan, majelis hakim menyatakan jika kedua terdakwa terbukti melanggar Pasal 80 Ayat 3 UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 Perlindungan Anak.

“Menyatakan terdakwa Yadi Supriyadi alias Acil bin Cucu dan Rizki Mulyono alias Nono bin Rusmadi terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan mati,” ujar Ketua Majelis Hakim Aryo Widiatmoko didampingi hakim anggota Hapsari Retno Widowulan dan Raden Danang Noor Kusumo.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Yadi Supriyadi alias Acil dengan pidana penjara 13 tahun dan terdakwa Rizki Mulyono alias Nono bin Rusmadi dengan pidana penjara 10 tahun dan denda masing-masing sebesar Rp1 miliar dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayarkan diganti dengan pidana kurungan masing masing selama 3 bulan,” lanjutnya.

Pasal tersebut digunakan hakim lantaran korban saat kejadian masih berusia 17 tahun. Sehingga termasuk pada tindakan kekerasan terhadap anak. Adapun hal-hal yang memberatkan adalah akibat tindakan penusukan yang dilakukan Yadi dan Rizki membuat masyarakat resah dan menebarkan terror, khususnya kepada warga Kota Cirebon. Sedangkan bagi terdakwa Yadi, ia pernah dihukum penjara atas kasus kejahatan lainnya. “Keadaan yang meringankan, terdakwa menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya,” ucap hakim Aryo.

Atas vonis tersebut, kedua terdakwa melalui kuasa hukumnya, Suparman, menyatakan menerima dan tidak akan mengajukan upaya hukum lain. Putusan tersebut diakui Suparman sudah sesuai dengan fakta persidangan. “Makanya kita terima dan tidak akan banding,” jelas Suparman.

Selain kedua terdakwa, dalam persidangan juga turut hadir kedua orang tua terdakwa Yadi Supriyadi. Mereka tak tahan menahan tangis setelah mendengar putusan hakim.

Sementara itu, jaksa penuntut umum Kejari Kota Cirebon Suryaman Tohir menjelaskan bahwa majelis hakim menggunakan pasal alternatif kedua. Jaksa sendiri mengajukan tiga pasal. Yakni Pasal 170 Ayat 2 ke-3 KUHP tentang Pengeroyokan yang Menyebabkan Kematian dan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan. “Tetapi Pasal 338 juga sama dengan Pasal 88 UU Perlindungn Anak, ancaman hukumannya 15 tahun. Kami menganggap sesuai dengan fakta-fakta di persidangan,” ucap Suryaman.

Kasus pembunuhan terhadap Rozien yang merupakan santri Ponpes Husnul Khotimah Kuningan terjadi pada Jumat 6 September 2019. Korban meninggal setelah ditikam pelaku Yadi menggunakan badik di dada sebelah kanan. Saat kejadian, Rozien yang ditemani Qisthan Ghazi tengah menanti ibunya yang datang dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Rozien dan Qisthan yang saat itu duduk di trotoar Jl Cipto Mangunkusumo, tepatnya di depan kantor Bank Syariah Mandiri, tiba-tiba didatangi kedua pelaku sekitar pukul 20.30 WIB. Yadi dan Rizki yang dalam pengaruh obat-obatan terlarang, mengancam dan berusaha merampas telepon genggam milik Rozien.

Karena mendapatkan perlawanan, pelaku Rizki Mulyono alias Nono menyerahkan senjata tajam berupa badik kepada Yadi yang kemudian digunakan untuk menusuk korban. Badik tersebut sudah disiapkan pelaku ketika hendak mencari target pemalakan.

Rozien yang sempat dirawat di rumah sakit akhirnya menghembuskan napas terakhir pada pukul 21.55 WIB. Pelaku pun akhirnya ditangkap di rumah masing-masing kurang dari 24 jam setelah peristiwa tersebut. Dalam penangkapan, polisi terpaksa menembak kaki kedua pelaku karena berusaha melarikan diri.

Selain kedua tersangka, polisi juga mengamankan barang bukti berupa senjata tajam badik dengan panjang sekitar 25 sentimeter dan satu unit sepeda motor Yamaha Vega ZR tanpa plat nomor beserta kuncinya. Yadi diketahui merupakan warga Jl Sisingamangaraja, Gang Nelayan, Kelurahan Panjunan, sedangkan Rizki Mulyono tercatat tinggal di Kampung Cangkol Selatan, Gang Langgar, RT 03 RW 05 Kelurahan/Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon.

Selain membunuh korban, kedua pelaku juga sempat melakukan kejahatan lain di lokasi berbeda. Yakni setelah kabur meninggalkan korban Rozien, Yadi dan Rizki melakukan pemalakan terhadap Zainul Majid dan Zula Fuadi. Keduanya melakukan aksi tersebut dengan modus yang sama, yakni menuduh korban telah mengeroyok teman pelaku. Kedua korban bahkan sempat dibawa ke pantai Samadikun sambil menodong leher korban dengan badik tersebut.

Atas kasus yang kedua ini, kedua korban juga telah divonis bersalah dan mendapatkan hukuman 2 tahun penjara untuk Yadi Supriyadi dan 1 tahun 6 bulan untuk Rizki Mulyono. Putusan tersebut dibacakan hakim dalam sidang vonis pada Selasa lalu 17 Desember 2019 atau di hari yang sama pembacaan tuntutan kasus pembunuhan atas Rozien. (day)

Berita Terkait