Pelaku Pencabulan Bocah SMP Divonis 8 Tahun, Denda Rp1 Miliar

SJ (batik) digiring ke mobil tahanan usai menjalani sidang vonis di PN Sumber. FOTO:CECEP NACEPI/RADAR CIREBON
SJ (batik) digiring ke mobil tahanan usai menjalani sidang vonis di PN Sumber.FOTO:CECEP NACEPI/RADAR CIREBON

CIREBON-SJ (52) harus hidup lebih lama di balik jeruji besi. Pria eks pegawai salah satu BUMN di Cirebon yang disidang karena mencabuli anak tirinya yang berumur 13 tahun itu divonis 8 tahun penjara dan denda berupa uang sebesar Rp1 miliar. Jika ia tak sanggup membayar denda itu, maka diganti dengan pidana kurangan lagi selama 6 bulan.

SJ diadili di Pengadilan Negeri (PN) Sumber. “SJ terbukti sah dan bersalah melakukan pencabulan terhadap anak. Menjatukan pidana penjara selama 8 tahun penjara dan pidana denda sebesar Rp1 miliar. Apabila tak dibayarkan, diganti dengan penjara selama 6 bulan. Membebankan terdakwa untuk membayar uang restitusi Rp29 juta,” papar hakim PN Sumber Setia Sri Maryana SH MH saat sidang dengan agenda vonis, Jumat (6/9).

Dalam catatan koran ini, vonis untuk SJ masih lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelumnya menuntut terdakwa 15 tahun penjara dan denda Rp1 miliar. Terdakwa juga dituntut membayar uang restitusi sebesar Rp106.282.000. Apabila terdakwa tidak dapat membayar uang restitusi maupun denda, disubsiderkan 6 bulan penjara.

Usai sidang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Sumber Ida Fatmawati mengatakan hukuman ada beberapa hal yang memberatkan terdakwa. Antara lain  tidak mengakui perbuatannya dan terdakwa merupakan ayah tiri dari korban. Undang-undang perlindungan anak, kata Ida, mengatur bahwa jika perbuatan cabul dilakukan oleh orang tua atau wali atau tenaga pendidik, maka ancaman pidananya ditambah sepertiga.

Sementara terkait dengan uang restitusi yang harus dibayar oleh terdakwa, Ida Fatmawati menjelaskan sesuai keputusan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang disetujui majelis hakim dalam persidangan, yang mana hasilnya sudah diserahkan ke majelis hakim dalam persidangan.

Proses hukum atas SJ berjalan cukup panjang. Dalam proses persidangan, orang tua korban berinisial S (37) juga selalu melakukan pemantauan. Pada kesempatan wawancara dengan Radar Cirebon, Juli lalu di PN Sumber, S menginginkan pelaku divonis seberat-beratnya. “Saya akan kawal terus proses ini di pengadilan,” tegas S kepada Radar Cirebon saat berada di PN Sumber, Kamis 4 Juli 2019.

S menceritakan, pencabulan itu terjadi ketika anaknya yang biasa tinggal bersamanya di Subang, lalu liburan ke Cirebon dan tinggal bersama ibu kandungnya serta ayah tirinya itu. Liburan berakhir bencana tersebut terjadi pada Juni 2018 lalu di rumah keluarga di salah satu kompleks perumahan di wilayah Kedawung, Kabupaten Cirebon. “Anak saya pengen berlibur ke ibunya (mantan istri S) yang ada di Cirebon. Jadi saya izinkan. Sampai dua minggu tinggal dengan ibunya,” ujar S.

Tak disangka, peristiwa itu terjadi. Pelaku melakukan aksi cabul sebanyak dua kali. Pertama, saat korban baru saja mandi. Saat keluar kamar mandi, ternyata berpapasan dengan ayah tirinya itu. Di situlah pelaku langsung menarik tangan korban dan menyuruh memegang alat vital. Sontak korban ketakutan dan mencoba untuk menolak.

Namun, pelaku malah mengancam korban dengan nada yang cukup serius. “Pelaku mengancam anak saya. Katanya kalau tidak melakukan, mamanya akan dibunuh. Jadi ya ketakutan,” cerita S. Hanya selang beberapa hari kemudian, aksi bejat ayah tiri itu berlanjut saat korban sedang tertidur. Pelaku memegang beberapa bagian tubuh korban.

Nah, aksi keduanya ini akhirnya diketahui ibu kandung korban yang berinisial V (35). Kedua pasangan suami istri itu langsung bertengkar hebat. “Keterangan anak, malam saat tidur, pelaku melakukan perbuatan bejat itu. Di situ, ibunya melihat. Jadi mereka langsung berantem hebat. Saat anak saya pulang ke Subang, baru dia cerita ke saya,” terang S.

Mendengar cerita anaknya, S langsung menghubungi mantan istrinya. Mereka pun kemudian berunding dan melaporkan kejadian itu ke polisi. Termasuk melakukan visum di RSD Gunung Jati. Ketika kasus ini dilaporkan, pelaku diketahui berpindah tugas ke Palembang, Sumatera Selatan.

“Laporan itu pada bulan Agustus 2018, kemudian langsung visum dan hasilnya ada kerusakan. Usai kejadian, saya juga bawa ke psikolog. Anak saya mengalami trauma dan ada bukti hasilnya akan kami ajukan ke pengadilan sebagai barang bukti supaya lebih kuat,” tandas S.

S mengatakan pelaku memang sempat pindah tugas ke Palembang. Beruntung polisi bergerak dan berkoordinasi dengan pihak terkait hingga pelaku akhirnya berhasil diamankan. “Pelaku ditangkap pada Januari 2019 lalu oleh Satreskrim Polres Cirebon Kota. Kami sangat berharap pada hakim untuk memberikan keadilan bagi anak saya, berharap pelaku dihukum seberat-beratnya,” pungkas S. (cep)

Berita Terkait