Pegagan Kidul Desa Pelopor Transaksi Nontunai

Warga Mulai Terbiasa, Senang Uang Langsung Masuk Rekening

Kuwu Pegagan Kidul Yaya Juariah (kanan) dan warganya memperlihatkan papan barcode untuk transaksi jual beli, kemarin. Pegagan Kidul merupakan satu di antara 2 desa di Indonesia yang menjadi pilot project transaksi nontunai.FOTO:SAMSUL HUDA/RADAR CIREBON

CIREBON-Kemajuan teknologi mengubah gaya hidup masa kini. Transaksi nontunai salah satunya. Mulai merambah ke desa. Dan, Desa Pegagan Kidul, Kecamatan Kapetakan, menjadi pelopornya. Belanja tak lagi pakai uang tunai. Menariknya, Pegagan Kidul merupakan satu di antara dua desa di Indonesia yang dipilih menjadi pilot project transaksi nontunai.

Kuwu (Kepala Desa) Pegagan Kidul Yaya Juariah semringah menceritakan perkembangan program transaksi nontunai di desanya. Berjalan sejak Juni 2019, kini sudah sekitar 50 persen warganya menggunakan transaksi jual beli nontunai berbasis QR code itu tersebut.

Sistem  itu telah masuk ke beberapa toko kelontongan atau warung sembako, toko bangunan, hingga petani garam di Desa Pegagan Kidul. Nyata-nyata menggeser transaksi konvensional. Yaya Juariah menceritakan, istem transaksi nontunai ini secara keseluruhan merupakan dukungan Bank Dunia atas kerja sama dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Jawa Barat.

Lalu, kenapa Desa Pegagan Kidul yang dipilih? “Karena warga Desa Pegagan Kidul banyak yang menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau TKI,” ujar Yaya saat dijumpai Radar Cirebon di desanya, Senin (18/11).

Menurutnya, program ini membuat masyarakat dapat bertransaksi dengan lebih aman dan lebih murah dengan menggunakan uang elektronik. “Risikonya pun terbilang lebih kecil terhadap adanya bencana alam maupun kejahatan dengan menyimpan uang di rumah. Jujur, keberadaan transaksi nontunai ini mendapat respons positif masyarakat,” tuturnya.

Meskipun awalnya warga sempay mengalami kesulitan lantaran ribet, namun lambat laun justru lebih mudah dan nyaman. Tingkat keamanannya lebih terjamin. Apalagi ada pendamping dari Bank Dunia. Tujuannya agar masyarakat dapat mengenal penggunaan uang nontunai melalui aplikasi.

“Penggunaan transaksi nontunai ini sudah digunakan di toko kelontongan, laundry, toko sembako, material,  kelompok petani, hingga petani garam. Saat ini untuk memaksimalkan penggunaan transaksi nontunai, sosialisasi kepada masyarakat masih berjalan,” terangnya.

Baca: https://radarcirebon.com/pemprov-jabar-luncurkan-program-proyek-percontohan-percepatan-keuangan-di-desa-pegagan-kidul.html

Pada perjalanannya, jika selama ini penggunaan uang nontunai hanya dipahami oleh masyarakat menengah ke atas, kini kian mudah dipahami dan bisa dijalankan warga di desa. Yaya bahkan mengatakan setelah terus dilakukan sosialisasi, kini 50 persen warganya telah beralih proses transaksi jual beli dengan menggunakan transaksi nontunai.

Yaya berharap proyek percontohan mendorong lebih banyak lagi masyarakat yang memiliki dan menggunakan produk dan layanan keuangan formal guna meningkatkan kesejahteraan warga. Selain memberikan kenyamanan kepada pembeli dalam bertransaksi, pelaku usaha mikro dan kecil juga diuntungkan dengan pembayaran nontunai.

Terlebih sejumlah penyedia jasa seperti BNI, BRI, Bank Mandiri, Pegadaian, dan Bank Jabar Banten (BJB) telah menyatakan kesiapannya untuk mendukung program ini. “Dan kami tentu bangga karena Desa Pegagan Kidul satu dari dua desa yang ada di Indonesia menjadi pilot project percepatan keuangan inklusif. Satu desa laginya ada di Kalimantan,” tandasnya.

Sementara itu, pemilik warung kelontongan Endang (52) mengaku transaksi nontunai di warungnya sudah berjalan dua minggu lalu. Ia mengakui lebih praktis. Dengan sistem pembayaran nontunai menggunakan QR code otomatis uang langsung masuk ke rekening pribadi milik Endang. “Ya memang Lebih mudah, lebih aman. Tinggal scan barcode transaksi bisa dilakukan,” kata Endang saat dikunjungi Radar Cirebon bersama Kuwu Yaya Juariah. (sam)

Berita Terkait