Pasca Penganiayaan, Warga Sekitar Lahan Tebu Masih Takut, Minta Jaminan Keamanan dari Aparat

Sejumlah kendaraan dirusak massa di area kebun tebu di perbatasan Majalengka-Indramayu. Tampak petugas dari Kodim 0616 Indramayu turun ke mengamankan lokasi, Selasa lalu (21/11).FOTO:IST

INDRAMAYU-Peristiwa tindak pidana kasus penghadangan dan penganiayaan sekaligus pengrusakan yang menimpa sejumlah petani penggarap lahan Hak Guna Usaha (HGU) milik Pabrik Gula (PG) Rajawali II Jatitujuh, membuat petani ketakutan. Bahkan ada sebagian memilih tidak menggarap lahan karena minimnya jaminan keamanan dari pihak terkait.

Salah satunya membekas pada diri Mulyanto (42) warga Desa Babajurang RT 04/01 Kecamatan Jatitujuh, Majalengka. Ia merupakan petani penggarap lahan tebu, dari program kemitraan dengan sejumlah desa penyangga di wilayah Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Majalengka. “Saya merupakan mitra baru yang rencananya akan menggarap lahan milik PG. Gak ngerti kok tiba-tiba jadi begini,” tuturnya saat ditemui di kediamannya, Kamis (5/12).

Saat peristiwa penghadangan dan penganiayaan, ia berusaha menyelamatkan diri. Meski sempat terkena sabetan alat tajam pada tempurung lutut, ia bersyukur masih bisa meloloskan diri dari kebutralan massa tak dikenal tersebut. “Yang ada di pikiran saya adalah bagaimana agar bisa selamat. Saya cuma bisa pasrah. Karena kalau secara logika, sangat kecil kemungkinan saya untuk selamat. Gak pernah mikir motor saya yang dirusak dan dibakar massa,” katanya.

Higga kini, Mulyanto mengaku belum bisa beraktivitas seperti sedia kala. Selain luka di tempurung lutut yang belum pulih, kondisi psikologisnya juga sedikit terguncang. “Saya belum bisa bekerja dan semua akhirnya jadi terganggu. Karena saya satu-satunya tulang punggung perekonomian keluarga. Dan kalau ingat kejadian itu, saya takut dan ngeri banget Mas,” terang bapak 2 anak ini.

Kini Mulyanto hanya bisa berharap sengketa lahan HGU milik PG Rajawali II Jatitujuh dengan sejumlah kelompok masyarakat bisa segera dituntaskan dengan sebaiknya. Ia berharap aparat penegak hukum bisa memberikan jaminan keamanan, sehingga ia bersama petani penggarap lainnya bisa mengolah lahan dengan tenang dan aman.

Sementara itu Direktur Utama PG Rajawali II Audry Harris Jolly menyerahkan sepenuhnya kepada pihak terkait, dalam hal ini pihak kepolisian guna mengusut tuntas kasus ini. “Yang jelas kami percaya dan sekarang sedang dilakukan penyidikan,” ujarnya. (oni)

Berita Terkait