Pasca Keracunan Massal, Dinkes Majalengka Gencar Sosialisasi Terkait Pangan

pengawasan-obat
SOSIALISASI: Petugas Bidang Perizinan, Pengawasan Obat-obatan, Makanan dan Minuman, Dinas Kesehatan (Dinkes), Iman Budiman SFarm Apt memberikan sosialisasi pasca KLB keracunan massal. FOTO: ONO CAHYONO/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA – Tak ingin kecolongan lagi, Petugas Bidang Perizinan, Pengawasan Obat-obatan, Makanan dan Minuman, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Majalengka melakukan sosialisasi kepada pengusaha UKM terkait keracunan pangan. Langkah ini dilakukan setelah adanya kejadian luar biasa keracunan massal di wilayah Rajagaluh.

Petugas Bidang Perizinan, Pengawasan Obat-obatan, Makanan dan Minuman, Dinas Kesehatan (Dinkes), Iman Budiman SFarm Apt mengatakan, kejadian luar biasa keracunan massal di wilayah Rajagaluh membuatnya lebih proaktif. Menurut Iman, KLB keracunan pangan adalah sesuatu kejadian di mana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah mengonsumsi pangan.

Berdasarkan analisis epidemiologi, pangan tersebut terbukti sebagai sumber keracunan. “Oleh karena itu, kami wajib memberikan informasi kepada publik. Agar ke depan antisipasi hal ini tidak terulang kembali,” ujarnya.

Iman menjelaskan, beberapa faktor penyebab keracunan di antaranya penyakit bawaan makanan. Faktor makanan itu ada empat poin. Seperti bahan baku pangan berbeda-beda.

“Bahan baku sifatnya mempunyai kimia, struktur, kandungan nutrisi, dan keasaman. Faktor menentukan kenapa ada faktor bahan baku. Karena ketika kadar nutrisi semakin tinggi, maka perkembangbiakan bakteri lebih cepat,” jelasnya.

Disebutkan, masyarakat harus lebih berhati-hati. Munculnya bakteri juga karena faktor makanan. Semakin tinggi asam, maka bakteri semakin susah hidup. Berbeda dengan bakteri TBC yang kerap tahan dengan asam. “Untuk makanan yang kandungan keasamannya kecil, maka akan mudah berkembang bakteri,” imbuhnya.

Bakteri akan dapat berkembang biak sangat cepat pada makanan yang mengandung banyak protein dan karbohidrat pada suhu 5-60 derajat celcius. Satu bakteri dapat berkembang menjadi lebih dari dua juta bakteri dalam waktu tujuh jam pada kondisi tertentu.

Disamping itu, faktor lingkungan. Mulai dari proses makanan itu disimpan di suasana seperti apa. Baik penyimpanan bahan baku di tingkat suhu. Faktor dari sifat bakteri itu sendiri yang akan membawa sumber penyakit.

“Bahaya mikroorganisme seperti roti. Tidak hanya sebatas dengan bakteri tetapi ada jamur. Roti kadang ada warna putih,” pungkasnya. (ono)

Berita Terkait