Negara Harus Lindungi Netizen dari Niat jahat

Andi-Alfian-Malarangeng
Andi Malarangeng kuliah umum di Wisuda STIKOM Poltek dan STIE Cirebon. Foto: Abdullah/Radar Cirebon

CIREBON – Negara harus hadir melindungi netizen dari niat jahat orang lain. Hal ini dikatakan Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Alfian Malarangeng PhD.

Menurut Andi Malarangeng, negara jangan hanya berpikir mengenakan pajak pada ­e-commerce, tapi UU ITE harus menyeimbangkan pengaturan regulasi juga perlindungan terutama privasi. “Sudahkah negara memberikan pelayanan dan meningkatkan taraf hidup?” ujar Andi, saat menghadiri wisuda STIKOM Poltek dan STIE Cirebon.

Mantaan Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini menambahkan, ketika menggunakan internet  secara otomatis data pengguna terekam. Kemudian masuk ke dalam big data dan dimainkan oleh algoritma. Di dunia maya, manusia adalah subjek dalam algoritma. Di sini, negara berperan penting memberikan perlindungan. “Bos big data sekarang menjadi menteri pendidikan, dan negara harus tetap hadir melindungi melayani meningkatkan taraf hidup,” tandasnya.

Andi Malarangeng  sempat bercerita 33 tahun lalu saat dirinya diwisuda di UGM Jogjakarta. Saat itu dirinya  mulai menggunakan komputer untuk mengerjakan skripsi dan mengolah data, bahkan untuk menggunakan komputer  saat itu harus rela antre.

Dibandingkan dengan saat ini, kecepatan komputer saat itu kalah jauh dengan handphone sekarang ini . Jadi berbeda sekali, zaman dirinya hanya ada satu dunia yakni dunia nyata, kalau sekarang ada dua dunia yakni dunia nyata dan dunia maya.

Nilai-nilai yang  berkembang di dunia maya dan dunia nyata juga berbeda. Dunia nyata nilai-nilainya itu kekuasaan, darah, keturunan, sedangkan  dunia maya nilai-nilainya adalah follower, berapa follower yang dimiliki, berapa subscribe-nya, bahkan kalau tidak viral dan tidak punya banyak follower maka di dunia maya maka strata sosialnya rendah.

Dirinya menegaskan, Kalau sebuah kebenaran di dunia nyata juga harus disebutkan di dunia maya, begitu juga sebaliknya kebohongan dunia maya juga harus disebutkan juga di dunia nyata. Supaya tidak kehilangan identitas, negara juga harus hadir di dunia maya. “Mari melihat bahwa citizen dan netizen harus membaur,” tegasnya. (abd)

Berita Terkait