Muncul Spekulan, Harga Tanah di Indramayu Barat Meroket

CALON-IBU-KOTA-INBAR

INDRAMAYU – Rencana pemekaran Kabupaten Indramayu membuat harga di sejumlah calon ibu kota daerah persiapan Kabupaten Indramayu Barat (Inbar) meroket. Hal itu terjadi di Kecamatan Kroya. Kenaikan harga tanah di wilayah itu mencapai dua sampai lima kali lipat dari sebelumnya. Masyarakat disanapun berbondong-bondong menjual tanahnya.

Seiring dengan itu, para spekulan atau makelar tanah juga terus bermunculan untuk mencari lokasi yang strategis di dekat calon ibu kota. Harga tanah yang diprediksi menjadi kawasan pusat pemerintahanpun akhirnya melonjak sampai berlipat-lipat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar, kenaikan harga tanah tidak hanya terjadi di wilayah Desa Sukaslamet yang disiapkan menjadi lokasi pembangunan pusat pemerintahan Kabupaten Inbar. Tapi pula merembet ke desa-desa tetangga seperti Desa Tanjungkerta dan Desa Kroya.

Harganya pun tak berbeda jauh. Untuk tanah darat di kisaran Rp150 ribu sampai Rp300 ribu permeter persegi. Angka itu terbilang tinggi karena harga sebelumnya dikisaran Rp50 ribu sampai Rp70 ribu permeter persegi.

Sedangkan untuk tanah sawah di kisaran Rp500 juta perbau dari harga sebelumnya Rp200-300 jutaan. “Sekarang sudah naik. Susah sekarang cari tanah yang harganya murah. Tapi memang harga lahan sekarang ini sangat bervariasi, tergantung lokasi, posisi, dan hak atas tanahnya. Kalau yang strategis tentu mahal,” ungkap Kuwu Desa Kroya Emo kepada Radar, belum lama ini.

Meski dibilang mahal, tak menyurutkan para pembeli untuk berburu tanah. Bahkan ada salah satu lembaga pondok pesantren yang secara masif memborong tanah-tanah penduduk baik tanah darat maupun sawah dengan harga lebih tinggi. “Ada yang begitu, sampai berani beli tanah sawah di atas harga pasaran Rp600 juta sampai Rp700 juta sebau,” ungkapnya.

Seingatnya, kenaikan harga tanah mulai terjadi sejak rencana pemekaran Kabupaten Indramayu bergulir kencang. Puncaknya ketika Kecamatan Kroya menjadi kandidat kuat calon ibu kota Inbar.

Pemerhati properti, Saeful Bahri menuturkan, selain karena bakal dijadikan ibu kota Kabupaten Inbar, naiknya harga tanah terdorong pula oleh dampak beroperasinya Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang lokasinya tidak jauh atau sekitar 10 kilometer dari Kecamatan Kroya.

Alhasil, selain Kecamatan Terisi dan Gantar daerah ini yang sebelumnya tidak diminati sekarang menjadi tujuan utama para investor untuk pengembangsan bisnis hunian maupun kawasan industri. Banyak pula warga yang mencari tanah untuk investasi pribadi.

Mereka terpincut menggarap lahan di sekitar ruas jalan tol terpanjang di Indonesia itu karena prospeknya bagus. Hal ini memicu lonjakan harga tanah di kawasan tersebut. “Ditambah lagi, kenaikan harga tanah di Kroya ini karena masyarakat banyak yang termakan tingginya harga tanah setelah isu menjadi calon lokasi Ibu Kota Inbar,” jelasnya.

Menurutnya kenaikan harga tanah di wilayah Kecamatan Kroya masih terbilang wajar jika dibanding wilayah lain yang sudah maju seperti Kecamatan Patrol, Anjatan, Haurgeulis, Kandanghaur bahkan Kecamatan Bongas. Di lima kecamatan itu harga tanah baik darat maupun sawah nyaris sudah di luar kewajaran. (kho)

Berita Terkait