Mulai Hari Ini Krisis Air di 3 Kecamatan Indramayu Segera Teratasi

Bupati-Supendi-tinjau-perbaikan-BKHR-42
PANTAU PERBAIKAN BKHR 4: Bupati Supendi bersama Sekda Riyanto Waluyo meninjau proses perbaikan kerusakan BKHR 4A SS Kandanghaur di Desa Wanguk, Kecamatan Anjatan, Selasa (18/6). Foto: Kholil Ibrohim/Radar Indramayu

INDRAMAYU – Gangguan pasokan air yang dialami para petani penerima manfaat irigasi Saluran Sekunder (SS) Kandanghaur segera teratasi. Tak lama lagi, tanaman padi mereka yang terancam kekeringan bakal terairi. Itu menyusul hampir tuntasnya perbaikan jebolnya BKHR 4A yang berada di Desa Wanguk, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu.

“Pekerjaannya hampir selesai. Sehingga Insya Allah, Kamis (hari ini, red) air bisa dialirkan untuk dimanfaatkan warga masyarakat yang ada di Kecamatan Bongas, Kandanghaur dan Gabus Wetan,” kata Bupati Indramayu Drs H Supendi MSi saat meninjau proses perbaikan kerusakan BKHR 4A serta pintu air pembuang SS Kandanghaur, Selasa (18/6).

Bersama dengan Sekretaris Daerah Rinto Waluyo serta para camat dan kuwu (kepala desa), di lokasi itu Bupati Supendi juga berdialog dengan pelaksana perbaikan dari BBWS Citarum serta jajaran Perum Jasa Tirta II Unit Usaha Wilayah III Patrol.

Baca:

Pasokan Air Bersih di Kandanghaur Lumpuh

Selain Krisis Air, PDAM Indramayu Rugi Rp 20 Juta Per Hari

Lima Kecamatan di Indramayu Terancam Gagal Panen

Berdasarkan pantauannya, Bupati Supendi mengatakan, sudah ada progres perbaikan yang signifkan terhadap jebolnya BKHR 4 bila dibandingkan beberapa hari lalu. Saat ini sudah ada konstruksi besi dan sudah diisi dengan cor semen supaya pondisi lebih kuat.

Melihat kondisi terakhir di lapangan, Supendi optimis distribusi air untuk wilayah Bongas, Gabus Wetan, dan Kandanghaur bakal dapat dilaksanakan mulai Kamis (20/6).

Namun demikian, lantaran hanya dua dari tiga sipon yang beroperasi maka akan dilakukan pengaturan pembagian air di lapangan. Pada saat air digelontorkan, dia meminta air tidak ada yang mengambil.

“Yang penting selesai dulu bangunan ini. Masalah pengaturan nanti dibicarakan PJT dengan para camat dan kuwu. Tapi kita juga minta kesadaran masyarakat petani yang didepan untuk mengalah. Dahulukan yang di belakang,” pintanya.

Sebelumnya, gara-gara jebolnya BKHR 4 pada Sabtu (8/6) lalu, distribusi air di SS Kandanghaur terpaksa dihentikan. Dampaknya, 9261 hektare tanaman padi terancam kekeringan.

Jika aliran air tidak disetop di hulu, perbaikan tanggul yang jebol ini tidak akan maksimal. Bahkan, bisa menyebabkan kerusakan yang cukup parah. Parahnya, kerusakannya sudah meluas dan terjadi di satu lubang sipon dan satu pintu pembuang. Sehingga, saluran sekunder itu  tidak bisa mengalirkan air lebih lanjut ke wilayah hilir. (kho)

Berita Terkait