MTU Turunkan Angka Pengangguran

f - buntet foto A (3)
LIFE SKILL: Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhalul Ulum didampingi Kepala Disnakertrans Provinsi Jawa Barat M Ade Afriandi serta Karo Humas Setda Pemprov Jabar Hermansyah membuka dan mengunjungi MTU di Pondok Pesantren Al-Ishlah II Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, kemarin (10/9).FOTO: MOHAMAD JUNAEDI/RADAR CIREBON

CIREBON – Upaya menekan angka kemiskinan yang disebabkan oleh pengangguran terus dilakukan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat (Pemdaprov Jabar). Salah satunya dengan menggelar program Smart Nakertrans.

Menurut Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhalul Ulum, Smart Nakertrans yang digawangi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat, terdapat  program teknis berupa Mobile Training Unit (MTU), yakni, pelatihan kerja mandiri yang dilaksanakan pada tempat tinggal masyarakat dengan mendatangkan armada MTU.

“Salah satu tugas pemerintah adalah menyejahterakan masyarakat. MTU ini adalah cara kami untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan memberikan bekal pelatihan keterampilan kepada mereka yang masuk kategori angkatan kerja,” kata Uu saat membuka pelaksanaan MTU di Pondok Pesantren Al-Ishlah II, Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, kemarin (10/9).

Dikatakannya, untuk saat ini pelatihan MTU di Jawa Barat masih fokus pada sektor kewirausahaan. Seperti yang saat ini dilakukan, yakni pelatihan membuat aneka kuliner dan teknis pengelasan. Bahkan, bisa juga pada sektor lain, seperti pertanian dan pariwisata sesuai dengan permintaan dari masyarakat.

“Kami (armada MTU, red) akan datang ke masyarakat. Sehingga, masyarakat tidak perlu mendatangi tempat-tempat pelatihan kerja. Artinya, negara hadir memberikan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

Dia sengaja bahwa pelaksanaan pelatihan menyasar ke kalangan pesantren. Mengingat, pondok pesantren merupakan sebuah lembaga yang sampai saat ini belum tersentuh oleh program pemerintah yang berkaitan dengan pelatihan kerja.

“Program ini tepat sasaran karena ke depan, para santri tidak hanya dibekali ilmu agama, tapi juga keterampilan hidup agar ketika lulus dari pesantren bisa hidup mandiri,” ucapnya.

Diakui oleh Uu, saat ini angka pengangguran di Jawa Barat sudah turun menjadi 7 persen dari sebelumnya 8 persen pada tahun lalu. Namun, hal ini jangan membuat Pemdaprov Jabar lengah, karena jumlah penduduk di Jawa Barat itu tinggi.

“Pelatihan seperti ini akan terus dilakukan, ditambah penataan kurikulum di sekolah, khususnya SMK, terus disesuaikan dengan kebutuhan industri. Ditambah mindset siswa pun juga ikut ditata, agar mereka yang tidak terserap oleh dunia kerja bisa membuka lapangan kerja sendiri,” ungkapnya.

Kepala Disnakertrans Provinsi Jawa Barat, M Ade Afriandi mengatakan bahwa pelatihan ini, selain menambah skill dari para santri yang masuk dalam angkatan kerja, juga menambah minat, membentuk kelompok usaha. Sehingga, ke depan bisa mengurangi angka pengangguran.

“Untuk kalangan pesantren ini, adalah yang pertama. Sementara secara keseluruhan, adalah angkatan ke-VII. Kali ini ada 30 peserta, terdiri dari 15 orang di bidang kuliner dan 15 santri di bidang las listrik dasar,” katanya.

Pihaknya menyediakan tenaga profesional sebagai pengajar. Lewat pendekatan partisipatif, pelatihan teknis dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren Al Ishlah II. Sementara pelatihan soft skills dilakukan di Balai Latihan Kerja Mandiri, Kantor Disnakertrans Jawa Barat di Kota Bandung. “Pelatihan lima hari kalender, dibagi dua tahapan teknis empat hari, soft skills satu hari di Bandung,” tambahnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Ishlah II, Kiai Soleh Zuhdi memberikan apresiasi atas program Smart Nakertrans. Dirinya berharap MTU bisa membawa manfaat bagi para santri.

“Mudah-mudahan membawa keberkahan untuk kita semua. Ambil semua kesempatan ini, jangan main- main dan berlatih dengan sungguh- sungguh,” singkatnya. (jun)

Berita Terkait