Membedah Pernyataan Ridwan Saidi Menyebut Raden Fatahillah Yahudi

(Foto: @radarmiliter)

BUDAYAWAN Ridwan Saidi menyebutkan bahwa Raden Fatahillah bukan keturan Arab melainkan seorang yahudi. Ia menjelaskan mengenai Kerajaan Sriwijaya yang fiktif dan Raden Fatahillah seorang Yahudi dalam video berdurasi 15 menit 52 detik itu.

Menurutnya Fateh (Raden Fatahillah) adalah pemimpin pasukan tentara Yahudi yang dijuluki Aladin, artinya serupa agama. Fateh datang ke Jawa untuk menyerang Pasuruan dengan kekuatan besar.

“Pateh ini lari ke Jakarta, dia enggak punya teman pada 1540. Dia itu Yahudi bar-bar yang kabur kerena diserang oleh kelompok kerajaan Melayu. Dia frustrasi makanya dia dijuluki Falatehan, itu bahasa Armenia yang menyerap ke bahasa Sunda artinya penyulut api. Dan tidak jelas mati di mana,” kata Babeh Ridwan dalam video yang diunggah akun bernama Macan Idealis.

Lantas, siapa sebenarnya Fatahillah?

Berdasarkan penelusuran literasi, radarcirebon.com menemukan identitas dan asal-usul Fatahillah sendiri sebenarnya juga masih menjadi misteri. Ahmad-Noor A. Noor dalam buku From Majapahit to Putrajaya: Searching for Another Malaysia menyebut bahwa Fatahillah atau Faletehan adalah seorang muslim keturunan Arab yang berasal dari Gujarat (India) yang kemudian diangkat menantu oleh penguasa Demak, Sultan Trenggono (1505-1518).

Ada juga yang meyakini Fatahillah adalah seorang pedagang sekaligus guru agama dari Aceh. Ia meninggalkan Samudera Pasai ketika kerajaan Islam pertama di Nusantara itu dikuasai oleh Portugis pada 1521 dan merantau sampai ke Demak. Disebutkan pula, Fatahillah pernah bermukim di Mekkah untuk memperdalam ajaran Islam, dalam buku karya Ibrahim Alfian, Dari Samudera Pasai ke Yogyakarta.

Masih terdapat beberapa versi lainnya terkait sosok Fatahillah, termasuk yang menyatakan bahwa ia adalah pangeran dari Arab, atau putra pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina, atau orang asli Samarkand (Uzbekistan) yang sempat belajar ke Baghdad (Irak), lalu mengabdikan dirinya ke Kesultanan Turki sebelum bergabung dengan Kerajaan Demak di Jawa.

Bahkan, ada sumber yang menyebut Fatahillah adalah orang yang sama dengan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), seperti dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara karya Slamet Muljana (2005: 230). Bahkan, Muljana meyakini bahwa Fatahillah pernah menjadi penguasa Banten dan Cirebon.

Terlepas dari kesimpang-siuran terkait jatidiri Fatahillah, catatan sejarah yang lebih jelas menyebutkan bahwa orang ini adalah panglima perang Kerajaan Demak yang diutus Sultan Trenggono untuk merebut Sunda Kelapa dari Portugis pada 1527.

Demak yang sebagai kekuatan utama Islam di Jawa merasa terancam jika Portugis dan Kerajaan Pajajaran bekerjasama menguasai Sunda Kelapa yang merupakan salah satu bandar dagang terbesar dan teramai di Nusantara kala itu.

Pasukan Fatahillah kemudian bergabung dengan orang-orang Cirebon yang memang mengincar Sunda Kelapa. Selain itu, Fatahillah juga didukung oleh masyarakat muslim Melayu dan Jawa yang telah menetap di Sunda Kelapa dan wilayah Kerajaan Pajajaran lainnya, dikutip dari Yasmine Yaki Shahab, dkk., Betawi dalam Perspektif Kontemporer.

Bahkan, sejarawan Eropa, H.J. De Graaf dan TH. Pigeud, meyakini keberadaan Fatahillah dan perebutan Sunda Kelapa. Buku mereka berjudul Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram justru meragukan catatan Mendez Pinto yang dipakai Ridwan.

Fatahillah diduga bernama Nurullah dan berasal dari kerajaan Pasai yang pergi berhaji ketika kerajaan itu dikuasai dikuasai Portugis. Sadjarah Banten menyebutkan ia naik haji lantas dikenal sebagai Syekh Ibnu Molana. Penulis Portugis menulisnya dengan nama Faletehan dan Tagaril.

Pulang berhaji, Fatahillah mendarat di Demak dan dan dinikahkan dengan putri Raja Demak, Sultan Trenggono. Ia kemudian menyerang Sunda Kelapa karena ada Portugis. Kemenangan Fatahillah inilah yang mengubah Sunda Kelapa menjadi Jaya Karta, kota kemenangan. Selanjutnya Fatahillah tinggal di Cirebon pasca kematian Sultan Trenggono dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Sumber lain, seperti sejarawan Uka Tjandrasasmita yang pada 1996 merujuk kitab Pusaka Caruban Nagari, menyebut Fatahillah berbeda dengan Sunan Gunung Jati. Fatahillah (Fadhilah Khan) adalah menantu dari Sunan Gunung Jati.

Halaman: 1 2

Berita Terkait