Masa Depan Politik Prabowo Subianto Selesai?

MASA depan Prabowo di politik bisa jadi selesai. Tapi tidak bagi Gerindra. Bagi pengamat, manuver Prabowo yang mendekat ke Megawati bisa dibaca sebagai upaya untuk membesarkan Gerindra.

Dari sejarah antara Prabowo dan Megawati. Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 adalah tahun penting dari hubungan keluarga Sukarno dan Sumitro.

Sumitro Djojohadikusumo dan Sukarno adalah dua politikus yang tak akur setelah dekade kedua 1950-an. Saat itu Sumitro memilih tak di Jakarta dan ikut serta dalam PRRI di Sumatra. Sumitro baru kembali ke Jakarta setelah Sukarno lengser dari kursi kepresidenan. Di masa Orde Baru, Sumitro tak menunjukkan diri lagi sebagai musuh Sukarno. Anak-anak Sumitro dan Sukarno pun tak terjebak dalam permusuhan orang tua mereka.

Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 adalah tahun penting dari hubungan keluarga Sukarno dan Sumitro. Ada pasangan Mega-Pro yang maju sebagai calon presiden dan wakil presiden waktu itu. Mega-Pro tentu mudah diingat orang, karena itu adalah salah satu merek sepeda motor rilisan Honda yang beredar luas di Indonesia.

Mega adalah Megawati Soekarnoputri, putri tertua Sukarno; dan Pro maksudnya Prabowo Subianto Djojohadikusumo, putra tertua Sumitro. Prabowo Subianto yang pernah jadi bagian daripada keluarga Soeharto tampaknya kurang disukai suami Megawati, Taufiq Kiemas (TK).

“TK sebetulnya tidak keberatan bila istrinya berkoalisi dengan Prabowo,” tulis Derek Manangka dalam Jurus & Manuver Politik Taufiq Kiemas.

Sementara Tjipta Lesmana dalam Bola Politik dan Politik Bola (2013: 178) menyebut, “Prabowo sejak awal rupanya ngotot mau menjadi orang nomor satu melalui tiket (koalisi) Prabowo-Mega.”

Pada akhirnya Prabowo harus mengalah dan membiarkan Megawati jadi “nomor satu” untuk sementara waktu. Prabowo kalah dalam Pilpres 2019. Prabowo kemudian memilih legowo. Pertemuan Jokowi-Prabowo pun terjadi di dalam MRT Jakarta.

Tak lama seusai pertemuan MRT itu, pada Rabu (24/7/2019), Prabowo mengunjungi kediaman Megawati. Mereka tampak akrab, penuh senyum, dan makan siang bersama. Setelah melewati tahun-tahun yang panas, anak Sukarno dan anak Sumitro itu terlihat mesra lagi.

Dalam Kongres V PDIP di Bali, Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto disambut riuh tepuk tangan para kader moncong putih berulang kali terdengar teriakan “Hidup Prabowo”.

Kehadiran Prabowo ini untuk memenuhi undangan Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Kemesraan juga terlihat saat Ketum Gerindra, Prabowo Subianto, di Kongres V PDIP ditutup dengan selfie bareng Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Momen selfie itu terjadi setelah pembukaan kongres V PDIP di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur, Bali, Kamis (8/8/2019). Sudah di mobil, Prabowo lalu keluar lagi saat melihat Megawati yang sedang keluar.

Megawati saat itu didampingi Prananda Prabowo dan Puan Maharani. Puan lalu mengeluarkan ponselnya dan melakukan swafoto.

Mega Bahagia Lupa Surya Paloh

Megawati Soekarnoputri nampak berbahagia. Di acara Kongres V PDIP di Bali, Mega tidak henti-henti melontarkan candaan yang banyak dilempar kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

“Mungkin Mbak Mega sedang berbahagia, Prabowo bisa diajak rekonsiliasi. Makanya suka disebut dan selalu menjadi sasaran,” kata pengamat politik Adi Prayitno saat dihubungi Kantor Berita RMOL, Kamis (8/8).

“Apalagi selama ini Prabowo simbol oposisi yang selalu dihadap-hadapkan dengan Megawati. Wajar kalau Prabowo selalu jadi bahan obrolan. Bahkan jadi bahan bercandaan,” tambahnya.

Dalam hal ini, Adi mengatakan semua pihak harus dapat memahami konteks hari ini, dimana PDIP sedang berbahagia karena memenangi pertarungan pileg sekaligus pilpres.

Namun yang menjadi perhatian justru Megawati tidak menyebut nama tokoh-tokoh koalisi Jokowi-Maruf, salah satunya kepada Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.

Sikap Mega yang demikian, kemudian ditafsirkan Mega tidak suka lagi terhadap sikap Surya Paloh yang belakangan menunjukkan perlawanan di internal koalisi.

“Dalam pidatonya Mbak Mega banyak melontarkan candaan. Akan sangat elegan kalau Mbak Mega juga ngajak Surya Paloh bercanda juga, terutama soal dinamika internal koalisi yang belakangan berbeda soal menyikapi Gerindra,” ucap Adi.

Strategi Prabowo

Dalam politik ada adagium yang mengatakan, tidak ada kawan atau lawan abadi. Dan, bukan politik namanya bila tak diwarnai manuver orang-orang yang terlibat di dalamnya. Yang perlu dilihat adalah apa motif di balik itu.

Sikap Prabowo bisa jadi disebabkan karena dia merasa waktunya dalam politik Indonesia sudah habis. Prabowo memilih mendekati Megawati, dan PDIP sebagai pemenang pileg secara umum, agar Gerindra punya masa depan yang lebih baik. Merapat ke kekuasaan dianggap lebih berdampak positif bagi perolehan suara Gerindra pada pemilu selanjutnya dibanding jadi oposisi.

Manuver Prabowo semakin dimungkinkan karena kelompok yang mendukungnya sebagai presiden, Badan Pemenangan Nasional (BPN), telah resmi dibubarkan. Pembubaran ini, membuat Prabowo “tidak terbebani lagi kepentingan mitra koalisi.” Beberapa partai pendukung Prabowo seperti PAN dan Demokrat juga telah terbuka menyatakan keinginan merapat ke Jokowi–meski ada kemungkinan ditentang partai koalisi pemenang. Sejauh ini hanya PKS yang menyatakan sikap siap jadi oposisi.  (*)

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait