Manajemen Kampoeng Kurma Polisikan Investor

Seorang petani sedang merawat pohon kurma di Kampoeng Kurma. FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

BOGOR-Manajemen PT Kampoeng Kurma melaporkan salah satu investornya, Irfan Nasrun. Tuduhannya pencemaran nama baik. Irfan dituding melakukan ujaran kebencian bermuatan SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) dan ancaman terhadap Direktur Utama PT Kampoeng Kurma Arfah Husaifah Arshad.

“Kami sudah mengantong beberapa barang bukti. Salah satunya beberap percakapan di grup medsos WhatsApp bernama KK/Prosyar Perjuangan,” ujar Kuasa Hukum Arfah Husaifah Arshad, Nusyirwan kepada awak media di Kantor PT Kampoeng Kurma Kelurahan Tanah Baru Kecamatan Bogor Utara, Rabu (13/11).

Dari laporan Radar Bogor (Radar Cirebon Group), Irfan merupakan salah satu investor PT Kampoeng Kurma yang merasa ditipu. Dia yang sudah berinvestasi ratusan juta sejak tahun 2018 tak kunjung mendapatkan haknya berupa bukti akta jual beli (AJB) 7 kavling dan lahan kurma seperti yang dijanjikan Kampoeng Kurma.

Irfan yang tak puas kemudian mendatangi kantor PT Kampoeng Kurma, Sabtu (9/11). Namun Dirut PT Kampoeng Kurma Arfah Husaifah Arshad tidak bisa ditemui. Dari situ kasus ini pertama kali mencuat di media. Tindakan ini yang kemudian kata Nusyirwan, telah mencemarkan nama baik kliennya. Padahal belum ada satupun keputusan pengadilan yang memvonis bahwa kliennya penipu.

Semestinya, kata dia, apabila yang bersangkutan merasa dirugikan oleh PT Kampoeng Kurma, manajemen mempersilakan menempuh jalur hukum. “Akibat tindakan dia (Irfan) klien kami merasa terintimidasi dan dirugikan baik secara materil maupun immateril. Terlebih ucapan di dalam WA Group tersebut membawa-bawa anak yang masih di bawah umur,” jelas dia.

Terkait hubungan PT Kampoeng Kurma dan konsumen, terutama yang menuntut haknya, Nusyirwan mengaku bahwa kliennya selalu kooperatif untuk mencari solusi terbaik dengan kepala dingin dan hati yang jernih. “Jika ada konsumen yang ingin menempuh jalur hukum, klien kami tidak memiliki hak untuk melarang atau mencegah,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Tim 10 PT Kampoeng Kurma, Tribudi Widodo menambahkan bahwa kondisi perusahaan memang sedang tidak sehat. Terutama dalam hal keuangan. Para buyers kecewa karena sebelumnya memang ada timeline di mana seharusnya semua telah mendapatkan haknya. Namun tak dapat terealisasi lantaran tahun lalu adanya miss manajemen. “Akibat miss manajemen, keuangannya amburadul, akhirnya tertunda,” ungkap dia.

Tri menjelaskan, Tim 10 terbentuk dari para buyers atau pembeli yang berjumlah sekitar 1.632 orang yang tak ingin perusahaan berhenti di tengah jalan. Karena tanah-tanah yang dimiliki perusahaan sudah banyak yang terbeli. Mulai dari 100 persen terbayarkan maupun yang baru diberikan Down Payment (DP).

“Jadi kalau dibilang di media bahwa ini adalah bodong sebetulnya tidak, karena ini ada tanahnya. Tanah saya ada di Cirebon. Saya sering ke sana melihat sudah diukur dan mulai dibikin jalan,” jelasnya. Selain aset tanah, sambung dia, bibit kurma juga sudah mulai berbuah. Dari enam lokasi yakni Cirebon, Jonggol, Cipanas, Jasinga, Koleang dan Tanjungsari, kurma berbuah di area Jonggol dan Cirebon. “Jadi dari yang diwakili tim 10 semuanya sepakat bahwa kita sabar karena keadaan PT Kampoeng Kurma sedang kurang sehat,” imbuh dia.

Halaman: 1 2

Berita Terkait