Mahkamah Internasional Beri Lampu Hijau Selidiki Kasus Rohingya

Rohingya
MAHKAMAH INTERNASIONAL: Perwakilan dari komunitas Rohingya dan Menteri Kehakiman Gambia Aboubacarr Tambadou, mendengarkan kesaksian selama konferensi pers di Den Haag, Belanda, Senin (11/11). Gambia mengajukan kasus di Mahkamah Internasional di Den Haag, pengadilan tertinggi PBB, menuduh Myanmar melakukan genosida dalam kampanyenya melawan minoritas Muslim Rohingya. Foto: AP

DHAKA – Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) memberikan lampu hijau untuk penyelidikan penuh atas dugaan kejahatan pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya, termasuk kekerasan dan deportasi paksa, Kamis (14/11).

“Ada dasar yang masuk akal untuk meyakini bahwa tindakan kekerasan yang meluas dan atau sistematis mungkin telah dilakukan. Yang dapat dikualifikasikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, deportasi melintasi perbatasan Myanmar-Bangladesh,” kata keputusan ICC seperti dilansir Channel News Asia, Jumat (15/11).

“Kami dengan ini mengizinkan dimulainya penyelidikan atas situasi di Bangladesh/Myanmar,” tambahnya.

Pada Agustus 2017, lebih dari 700 ribu orang Rohingya melarikan diri dari Rakhine dan mengungsi ke Bangladesh. Hal itu terjadi setelah militer Myanmar melakukan operasi brutal untuk menangkap gerilyawan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

Masifnya arus pengungsi ke wilayah perbatasan Bangladesh, segera memicu krisis kemanusiaan. Para pengungsi Rohingya terpaksa harus tinggal di tenda atau kamp dan menggantungkan hidup pada bantuan internasional. (der/cna/fin)

Berita Terkait