Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Dikurangi

ILUSTRASI

JAKARTA-Kementerian Agama meminta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam untuk tidak terlalu banyak menerima mahasiswa tarbiyah. Lima tahun ke depan, Kemenag akan memprioritaskan program Pendidikan Profesi Guru (PPG).

”Ya akan dibuat surat edaran se-Indonesia terutama untuk para rector-rektor diimbau tidak menerima mahasiswa tarbiyah yang terlalu banyak, paling tidak hanya satu kelas. Karena fakultas tarbiyah paling banyak di PTKIN,” terang Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin.

Guru Besar UIN Alauddin Makasar itu menambahkan, PPG harus menjadi instrumen yang bisa mentransformasi kualitas para guru madrasah. Kurikulum yang diajarkan harus betul-betul dinamis dan memenuhi kebutuhan secara memadai seperti kompetensi kompetensi yang dimiliki guru, dan harus di revitalisasi harus lembaga yang berkualitas dan memadai dan bisa mewujudkan cita-cita bersama.

Kasubdit Bina GTK MI/MTs Ainurrafiq mengakui proses seleksi akademik PPG sangat membutuhkan penataan data. Menurutnya, keberadaan Simpatika sangat membantu. “Simpatika setelah disurvei berbagai lokasi ternyata sangat membantu mulai awal guru mendapatkan NUPTK sampai bisa melaksanakan PPG,” ujar Rofiq.

Sementara itu, Kepala Seksi Bina Guru MI/MTS Mustofa Fahmi mengatakan, seleksi akademik 2019 merupakan kali pertama dimana Tempat Uji Kompetensi (TUK) ditentukan Kementerian Agama. Sebelumnya, TUK menggunakan sarana yang difasilitasi sekolah umum.

Untuk tahun 2019, lanjut Fahmi, ada 128.000 guru madrasah yang mendaftar. Setelah dilakukan verifikasi, hanya 32.000 yang lulus passing grade. Dari jumlah tersebut, kuota PPG yang tersedia di tahun 2019 hanya untuk 6.800 guru. Sisanya akan menjadi prioritas tahun depan. ”Peserta PPG 2019 akan dibekali bimbingan belajar yang dilengkapi dengan modul. Uji pengetahuan bersama akan digelar pada 23 – 24 November 2019,” terang Fahmi.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jejen Musfah membenarkan bahwa selama ini penerimaan mahasiswa tarbiyah sangat banyak. Menurut Jejen, rencana Kemenag mengurangi jumlah mahasiswa tarbiyah dan memaksimalkan program PPG sah-sah saja.

Jejen mengatakan selama ini terjadi benturan waktu antara kuliah regular tarbiyah dengan PPG. Kemudian ketika terjadi benturan waktu, para dosen lebih cenderung memilih mengajar program PPG. “Sebab dosen mendapatkan tambahan penghasilan dengan mengajar di program PPG. Akibatnya kuliah regular tarbiyah menjadi tertinggal,” katanya. (fin/ful)

Berita Terkait