Mahasiswa Demo di Lamer, Ibu-ibu Datangi Gedung Dewan

Sebagai refleksi peringatan Hari Sumpah Pemuda, Forum Diskusi Mahasiswa 45 (Fordisma 45) menggelar aksi tersebut di perempatan lampu merah (lamer) Pemuda, Senin, (28/10).FOTO: KHOIRUL ANWAR/RADAR CIREBON

CIREBON-Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Diskusi Mahasiswa 45 (Fordisma 45) menggelar aksi unjuk rasa sebagai refleksi peringatan Hari Sumpah Pemuda. Mereka menggelar aksi tersebut di perempatan lampu merah (lamer) Pemuda, Senin,  (28/10).

Aksi tersebut sempat membuat arus lalu lintas di jalan By Pass Brigjen Dharsono menjadi tersendat.  Beruntung,  puluhan aparat cukup sigap mengamankan aksi di tengah jalan tersebut. Juru Bicara Fordisma 45, Wildan mengatakan, momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan momen bersejarah yang menyatukan pemuda seluruh Indonesia.

Para pemuda dari lintas suku,  etnis,  agama, bahasa dan budaya saat itu,  bersatu padu untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. “Namun sekarang kan kita berjuang untuk bersatu melawan rezim kekuasaan yang membuat keadaan dan situasi bangsa Indonesia sangatlah krisis secara politik, ” kata Wildan.

Ia menilai, permasalahan seperti naiknya iuran BPJS, pengesahan RUU KPK hingga tindakan aparat yang represif dalam beberapa aksi demonstrasi harus segera ditindaklanjuti. “Kenaikan BPJS ini sangat merugikan rakyat Indonesia.  Padahal, pemerintah wajib memberikan jaminan kesehatan kepada warganya.  Tetapi dalam masalah ini seolah olah pemerintah lepas tangan dan mengacuhkan kehendak masyarakat,” jelasnya.

Maka dari itu, menyikapi hal tersebut kata Wildan, dalam momen Peringatan Sumpah pemuda tersebut Fordisma 45 menuntut untuk mencabut kenaikan iuran BPJS, mendorong pemerintah mengeluarkan Perppu KPK dan mengadili aparat yang telah berlaku represif terhadar para demonstran. “Karena seharusnya aparat itu mengayomi dan menjaga bukanya melakukan aksi represif terhadap mahasiswa,” tandasnya.

Sementara itu, massa yang menamakan diri Komunitas Masyarakat Peduli Kebhinnekaan (Kompak) juga mengelar aksi demo ke DPRD. Sekitar pukulk 13.00 WIB massa yang sebagian besar ibu-ibu rumah tangga yang datang mengendarai angkot ini berunjuk rasa.

Mereka menegaskan peranan pendidikan nasionalisme perlu ditanamkan kepada seluruh rakyat Indonesia, sehingga dalam perkembangannya dapat mengerti dan memahami makna dari NKRI yang sesungguhnya.

“Tidak hanya soal materi saja yang harus diajarkan kepada para generasi penerus, melainkan keseluruhan nasionalisme. Paham-paham yang tidak sesuai dan bertujuan untuk meruntuhkan NKRI juga harus diperkenalkan, sehingga dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah,” kata Yudi salah satu orator.

Menurut Yudi, seperti yang telah digembor-gemborkan oleh para nasionalis bangsa, bahwa NKRI harga mati. Maksud dan tujuannya yaitu supaya seluruh masyarakat bangsa Indonesia harus bahu-membahu saling membantu satu sama lain untuk ikut serta menjaga keutuhan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masa ditemui anggota DPRD di antaranya Heriyanto, Fahrozi keduanya dari fraksi PAN, serta R Endah dari Fraksi Partai Demokrat. (awr/abd)

Berita Terkait