Mahasiswa Ancam Unjuk Rasa Sikapi Kelangkaan Gas

GAS MELON LANGKA
Ilustrasi.Foto: Dok. radarcirebon.com

MAJALENGKA – Realita gelangkaan gas elpiji berukuran 3 kilogram tidak hanya terjadi di beberapa daerah termasuk salah satunya di wilayah Majalengka Kota.

“Seolah menjadi langganan kalau barang bersubsidi ini sangat sulit didapatkan. Terutama terjadi hampir setiap bulannya. Satu daerah beres, masalah yang sama muncul di daerah lain,” tegas salah seorang mahasiswa Universitas Majalengka (Unma), Oki Kurniawan, Rabu (18/9).

Mahasiswa yang kos di Jl Gerakan Koperasi, kelurahan Majalengka Wetan Kecamatan Majalengka ini menyatakan, sejak sepekan terakhir dirinya bersama mahasiswa lainnya kesulitan mencari gas melon. Kalaupun ada, oknum pangkalan mengatakan jika gas tersebut sudah di-booking (dipesan) oleh warga yang sudah terlebih dahulu menitipkan gas kosong.

Pangkalan yang berada di sepanjang Jalan Gerakan Koperasi tidak ada yang memberikan satupun penukaran tabung gas melon kosong. Melihat kondisi ini jelas sangat memprihatikan jika ketersediaan gas bersubsidi sulit didapatkan.

“Yang buat saya heran, itu oknum pangkalan baru saja ada pengiriman stok tabung gas isi. Tapi ketika saya dan teman datang untuk membeli, bilangnya sudah habis. Kalaupun ada sudah dipesan sebelumnya,” tuturnya.

Pihaknya mempertanyakan upaya Pemkab Majalengka dalam hal ini Dinas Perdagangan (Disdag) yang belum inspeksi ke setiap pangkalan. Lemahnya pengawasan acap kali membuat peristiwa langganan ini terjadi.

“Boro-boro mau ngasih sanksi sampai cabut izin operasionalnya. Pengawasan ke lapangan saja dinilai lemah. Seharusnya ada langkah antisipasi hingga memberikan sanksi tegas kepada pangkalan yang kedapatan membandel ini,” tukasnya.

Mahasiswa siap turun ke jalan menyikapi persoalan yang hingga kini belum kunjung ditemui solusi yang tepat. Oki mengaku bakal menggandeng organisasi mahasiswa guna turun ke jalan untuk mempertanyakan peran instansi terkait dalam pengawasan.

Mahasiswa lainnya, Encep Nuryana menambahkan bahwa gas bersubsidi ini lebih dari Harga Eceran Tertinggi (HET). Masyarakat termasuk dirinya sering membeli dengan harga Rp 20 ribu per tabung.

“Karena ini memang kebutuhan pokok, mau gimana lagi ya kita beli meski diatas HET. Tetapi yang perlu disoroti adalah lemahnya pengawasan yang mengakibatkan warga tidak bisa mendapatkan gas meski di pangkalan terdekat,” imbuhnya. (ono)

Berita Terkait