Mahasiswa Akper BPC Praktik BTCLS

PERTOLONGAN PERTAMA: Sejumlah mahasiswa tingkat III Akper BPC melakukan simulasi pertolongan pertama pada korban kecelakaan, yang menjadi rangkaian akhir dari pelatihan BTCLS yang dilakukan tahun ini. FOTO: AKPER BPC FOR RADAR CIREBON

CIREBON – Satu orang kritis dan puluhan lainnya mengalami luka-luka berat dan ringan, setelah sebuah bus yang mengangkut studi tour anak sekolah di wilayah Kabupaten Kuningan tergelincir ke jurang sedalam 3 meter, kemarin (12/12). Korban yang kritis tersebut mengalami luka yang cukup parah di bagian kepala dan kaki karena terbentur benda keras. Serta terjepit di antara kursi-kursi bus malang tersebut. Tim medis pun langsung terjun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk membantu proses evakuasi korban.

Menurut salah satu petugas medis yang terjun membantu evakuasi korban, Rizki Juantara, evakuasi korban kecelakaan cukup menyulitkan. Pasalnya, medannya cukup berat sehingga dibutuhkan keahlian, kesabaran dan ketenangan.

“Kemiringan tebing cukup terjal. Kami harus berhati-hati untuk turun menuju lokasi jatuhnya bus tersebut. Begitu juga saat melakukan pertolongan pertama terhadap korban,” tuturnya, yang saat ini masih kuliah di Akademi Keperawatan Buntet Pesantren Cirebon (Akper BPC).

Sementara, korban kecelakaan bus yang mengalami luka ringan dan sudah berhasil diselamatkan, M Iksan, mengaku masih shock karena saat kejadian dirinya tengah tertidur. Beruntung, nasibnya masih mujur karena berhasil diselamatkan oleh tim medis dari para mahasiswa Akper BPC. “Alhamdulillah ada tim medis yang langsung sigap menolong saya,” ucapnya.

Kejadian di atas merupakan setting drama para mahasiswa Akper BPC yang tengah praktik lapangan pertolongan korban kecelakaan dan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS).

Direktur Akper BPC, R Deni Indrawan SKep Ners MM mengatakan, simulasi praktik lapangan dengan metode pementasan drama ini sengaja dilakukan agar para mahasiswa yang sudah mengikuti pemaparan BTCLS secara teori, dapat lebih mudah mempraktikkan ilmu-ilmu yang sudah didapatnya pada saat itu.

“Dengan setting drama ini, masing-masing mahasiswa yang sudah dibagi tugas dalam bentuk peran, dapat memahami betul apa yang harus dilakukan saat diminta untuk membantu menolong korban kecelakaan, bencana alam dan pasien yang membutuhkan pertolongan pertama,” katanya.

Dari simulasi dengan metode pementasan drama ini, kemampuan dari setiap mahasiswa tingkat tiga dapat terukur. Sehingga, bisa menjadi bahas evaluasi para dosen dan mahasiswa untuk mengasah kemampuannya.

“Diharapkan, ketika lulus dari sini, mereka sudah punya skill dan siap untuk bekerja di rumah sakit dan instansi pelayanan kesehatan lainnya,” tambah Deni.

Dalam pelatihan ini, Akper PBC menggandeng Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) sebagai instrukturnya.

Sebelumnya, pada akhir Oktober lalu, para mahasiswa Akper BPC sudah memulai pelatihan dengan mendengarkan pemaparan materi dari para mentor atau instruktur. Kemudian, melakukan pelatihan di laboraturium dan puncaknya pelatihan simulasi. (jun)

Berita Terkait