Lagi, Galian C Argasunya Minta Korban Jiwa, Ini Korban yang Ke-15

Korban Dianggap Syahid, Menolak Proses Hukum

Warga dan sesama penggali pasir melakukan evakuasi korban dengan peralatan seadanya, Kamis (18/7). Proses evakuasi jasad korban tersebut berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam. FOTO: AGUS RAHMAT/RADAR CIREBON
Warga dan sesama penggali pasir melakukan evakuasi korban dengan peralatan seadanya, Kamis (18/7). Proses evakuasi jasad korban tersebut berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam.FOTO: AGUS RAHMAT/RADAR CIREBON

CIREBON-Seperti dua sisi mata uang. Demikian yang terjadi dengan aktivitas galian c di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti. Pemerintah Kota Cirebon masih memperbolehkan aktivitas penambangan terutama dengan cara manual. Diskresi ini, lantaran pemerintah belum sanggup menghadirkan alih profesi bagi ratusan warga yang bergantung pada aktivitas penambangan pasir.

Di sisi lain pekerjaan mereka itu mengandung risiko yang membahayakan jiwa mereka sendiri. Yang ditakutkan, kembali terjadi. Kamis siang (18/7), sekitar pukul 13.30 WIB, Muhammad Jejeri (38), tewas tertimbun longsoran tebing di area penambangan RT 02 RW 10 Kedung Jumbleng.

Warga Kedung Krisik RT 02 RW 06 yang berprofesi sebagai sopir truk tersebut, merupakan korban ke-15 terhitung sejak 2009. Ini mengacu pada dokumen pemberitaan Radar Cirebon. Sebab, kelurahan maupun kepolisian tidak memiliki catatan terkait jumlah korban akibat kecelakaan kerja di lokasi penambangan pasir. Sementara menurut penuturan warga, ditengarai jumlahnya mencapai ratusan.

Lurah Argasunya H Dudung Abdul Barry mengaku prihatin dengan kejadian ini. Pihaknya menerima laporan dari warga sekitar pukul 14.00 WIB dan langsung mendatangi lokasi kejadian. Di lokasi, dia melihat proses evakuasi korban tertimbun tebing galian yang runtuh atau longsor.

“Evakuasi menggunakan alat seadanya, prosesnya memakan waktu sekitar satu setengah jam. Korban berhasil dikeluarkan dalam kondisi sudah meninggal dunia,” ungkapnya kepada Radar, Kamis (18/7).

Korban langsung dibawa ke rumah duka di Kedung Krisik. Pihaknya telah mendata kejadian ini untuk dilaporkan kepada atasannya dan kepolisian. “Untuk kronologis kejadian, saya kurang paham silahkan nanti hubungi kepolisian saja. Yang pasti lokasi kejadian dan korban ada di wilayah kami,” ucapnya.

Halaman: 1 2

Berita Terkait