Korban Tertipu Lowongan Kerja MLM Terus Bertambah

Empat pencari kerja Ayip, Dimas, Zuarsih dan Karnengsih tertipu loker MLM di Bandung.FOTO:DOK. RADAR CIREBON

CIREBON-Pencari kerja yang tertipu lowongan kerja (loker) di Facebook (FB) bertambah. Para korban sendiri awalnya tidak saling kenal. Mereka bertemu di salah satu perusahaan di Bandung yang bergerak di bidang multi level marketing (MLM). Salah satu yang pernah diekspos sebelumnya adalah Ayip (17) warga Desa Gintungrajeng, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.

Kemarin, Ayip menceritakan ada tiga korban lagi yang merupakan teman senasibnya. ”Korbannya bertambah. Minggu (13/10) ada 3 teman saya juga yang lolos kabur. Mereka merupakan warga Magelang, Boyolali, dan Malang. Rata-rata mereka umurnya di bawah 25 tahun. Kita sangat berharap pihak kepolisian untuk menindak para pelaku yang sudah merugiakan para pencari kerja,” kata Ayip, kemarin.

Ketiga korban yang masih rekan Ayip itu singgah di Cirebon, Sabtu  (12/10). Perjalanan mereka terhenti di Terminal Harjamukti Kota Cirebon lantaran tak punya ongkos untuk melanjutkan perjalanan ke kampung halamanan. “Untungnya mereka masih menyimpan nomor saya. Mereka menelepon, jadi saya jemput di terminal. Sekarang mereka di rumah saya, sambil kami menghubungi masing-masing keluarga korban. Besok (hari ini, red) keluarga mereka akan datang jemput,” ungkapnya.

Seperti diceritakan Ayip, mereka awalnya tidak saling kenal. Tapi, nasib yang sama (tertipu) mereka bertemu di perusahaan di Bandung yang bergerak di bidang Multi Level Marketing (MLM). Mereka harus mengalami kerugian jutaan rupiah.

Ayip menceritakan awal dia mencari kerja melalui media sosial. Dia kemudian berkenalan dengan orang yang mengaku dari Magelang. Pelaku menawarkan pekerjaan dengan gaji yang menjanjikan. Ayip merasa tertarik. Saat itulah mereka mulai bertukar nomor telepon dan mulai berkomunikasi melalui WhatsApp.

“Dia meminta 10 juta biar masuk. Janjinya, nanti digaji Rp3,5 juta per bulan di tambah uang fee per bulan Rp3,5 juta juga dan komisi komisi lainnya hingga mencapai puluhan juta per bulan. Karena saya ingin kerja, jadi saya minta uang ke orang tua,” ucap Ayip.

Setelah mendapat restu dari orang tua, mermodalkan uang Rp6 juta dan sepeda motor, Ayip pun membulatkan tekad merantau ke Bandung, bertemu dengan pelaku dan bekerja seperti yang dijanjikan. Sampai di Bandung, di salah satu rumah, dia pun bertemu dengan sang pelaku.

Awal transaksi, surat-surat lengkap dan bermaterai disuguhkan. Pelaku juga menjanjikan uang Ayip akan dikembalikan jika tidak sesuai dengan yang dijanjikan. “Saat itu, saya kaget setelah ditandatangani tidak satu pun surat-surat diberikan kepada saya. Tetapi disimpan mereka,” terangnya.

Ayip mencoba tenang, dia mengikuti alur pelaku. Tapi, setelah satu bulan di rumah tersebut, Ayip semakin heran karena bekerja hanya rapat dan rapat. Bahkan, dia juga tidak diperbolehkan memegang handphone. Tidak hanya itu saja, nomor kontak keluarga juga dihapus semua oleh mereka.

Ayip lebih kesal karena motor miliknya dijual oleh pelaku lantaran uang pendaftaran masuk kerja Ayip kurang. Dia berusaha memberontak. “Saya tidak tahan, akhirnya saya kabur. Tapi, alamat rumah itu tidak saya catat. Gak sempat,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Zuarsih warga Majalengka yang ikut kabur karena sudah tidak tahan. Zuarsih mengaku sudah menyetorkan uang sebesar Rp5 juta dengan cara yang sama persis dengan Ayip. “Sama yang dijanjikan seperti itu. katanya gaji besar dengan fee besar,” kata Zuarsih. (cep)

Berita Terkait