Korban KM Diancam, Dipaksa Ngaku Jatuh saat Main Bola

Korban berinisial KM dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Cirebon, Minggu (8/12). FOTO:AGUS RAHMAT /RADAR CIREBON

CIREBON-Munadi, perwakilan keluarga KM, mengatakan aksi penganiayaan ini seperti sudah direncanakan. Karena, kata Munadi, sewaktu penjemput keponakannya datang ke sekolah, salah satu siswa yang diduga sebagai pelaku, mengatakan kalau KM sedang remedial sehingga harus pulang sendiri.

Hal lain yang bikin geram keluarga, lanjut Munadi, salah seorang pelaku memerintahkan KM mencopot seragam yang penuh dengan darah dan menggantikannya dengan kaus pelaku. Munadi mengatakan itu merupakan upaya jahat para pelaku agar tindakan kebrutalan mereka tak terendus. “Tidak sampai di situ saja, KM juga diancam agar tidak menceritakan kejadian ini. KM ditekan agar mengaku luka yang terjadi karena jatuh ketika bermain bola,” ucapnya.

Tentu saja, sambung Munadi, sepulangnya KM dari sekolah, orang tuanya tidak langsung percaya. Pasalnya, luka itu hampir di sekujur tubuh dan darah dari hidung tidak berhenti keluar. Setelah pihak keluarga mencoba mengajak KM berbicara, dia akhirnya menceritakan kejadian sebenarnya. Saat itu juga keluarga membawa KM ke rumah sakit.

Sebagaimana data awal, Munadi mengatakan kejadian ini berawal saat keponakannya itu mendapati seorang pelaku menghisap rokok elektrik jenis vape yang sesuai aturan sekolah disebut pelanggaran. KM lalu melapor ke seorang guru.

Nah, guru ini malah bilang ke teman KM, bahwa KM melaporkan pelanggaran itu. Kalau menurut saya, harusnya yang melanggar itu dipanggil, dinasehati, dan dibina. Bukan menyampaikan ke pelanggar bahwa ada yang melaporkan,” sesal Munadi.

Karena guru ‘membocorkan’ nama KM, Munadi menduga pelaku akhirnya dendam. “Ya, di sini kemungkinan pelaku dendam. Sehingga seperti merencanakan untuk menghajar KM yang dibantu oleh kakak kelas beda tingkat,” cerita Munadi saat dijumpai Radar Cirebon saat menemani KM di salah satu rumah sakit swasta di Kota Cirebon kemarin.

Munadi mengatakan pihak sekolah mengakui kejadian ini terjadi di lingkungan sekolah, bahkan sudah menjenguk KM di rumah sakit. “Tapi mereka (pihak sekolah, red) mencoba mengaburkan kejadian ini dengan menuduh keponakan kami mempunyai kelainan seksual. Jujur keluarga tambah geram. Tadinya berniat hanya akan menuntut pelaku, keluarga memutuskan untuk juga menuntut pihak sekolah,” tandasnya.

“Jelas ini ada kelalaian dan pembiaran dari sekolah. Kejadian ada di lingkungan sekolah, tidak mungkin guru tidak mengetahuinya. Anak kami sedang dalam kondisi memprihatinkan karena dianiaya, malah dituduh dengan tuduhan keji (tuduhan kelainan seksual). Ini akan kami tuntut juga,” pungkas Munadi. (gus)

Berita Terkait