KKN di Desa Penari: Mengapa Orang Menikmati Ketakutan?

Ilustrasi.Twitter

BANYUWANGI-Di media sosial, Rowo Bayu dikaitkan dengan cerita #kkndidesapenari yang bertahan di trending topik Twitter Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Bahkan tagar itu menjadi paling trending hingga pukul 16.32 Wib, Jumat (30/8/2019).

Cerita KKN di Desa Penari ini dikisahkan terjadi pada pertengahan tahun 2009 di Kota B, satu nama kota di Jawa Timur yang disamarkan.

Seperti dikutip dari akun twitter SimpleMan, enam calon sarjana tersebut adalah Ayu, Nur, Widya, Wahyu, Anton dan Bima. Mereka melaksanakan KKN di daerah di Jawa Timur yang hanya disebut dengan inisial B. Untuk menjalankan program kerja yang telah disusun, Ayu berpasangan dengan Bima, Wahyu dengan Widya, dan Nur dengan Anton.

Viralnya cerita KKN di Desa Penari ini setidaknya menunjukkan bahwa kita memang punya kecenderungan menyukai cerita mistis atau horor. Tingginya minat orang Indonesia dengan cerita horor juga tampak dari banyaknya penonton film horor di bioskop. Film horor garapan Joko Anwar Pengabdi Setan sukses menjadi film Indonesia peringkat pertama dengan penonton 4.206.103 tahun 2017.

Tahun selanjutnya, 3,3 juta penonton Indonesia juga berbondong-bondong menyaksikan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur, film horor yang diperankan Luna Maya.

Allegra Ringo menulis artikel berjudul Why Do Some Brains Enjoy Fear? kesukaan orang terhadap hiburan horor muncul karena proses kimiawi dan biologi dalam otak manusia, salah satunya adalah peningkatan dopamin, satu hormon yang juga menyebabkan hiperaktivitas dan euforia.

Dalam wawancara New York Times dalam artikel A Scaredy-Cat’s Investigation Into Why People Enjoy Fear pada 2016, neuropsikolog Vanderbilt University David Zald menjelaskan bahwa ada orang yang tak memiliki “rem” ketika melakukan pelepasan hormon dopamin. Sehingga, jika satu orang dan lainnya memiliki penerimaan berbeda-beda terhadap hiburan horor. Yang satu menganggap horor menyenangkan, sementara bagi yang lain menakutkan.

Sementara itu, seorang profesor dari Brian Lamb School of Communication, Purdue University, Glenn Sparks mengatakan, ketika orang menikmati cerita horor atau menonton film-film yang menakutkan, detak jantuk, tekanan darah, dan pernapasan meningkat.

Sensasi itu bertahan setelah film usai serta mempengaruhi emosi setelah menonton atau membaca cerita horor. Namun, biasanya orang tanpa sadar akan berfokus pada pengalaman menonton atau membacanya, bukan film atau ceritanya.

“Alih-alih fokus pada rasa takut, Anda akan teringat betapa gembiranya menonton bersama teman-teman sehingga Anda ingin mengulanginya lagi,” ujarnya. (*)

 

Berita Terkait