Kepulangan TKW Carmi Tinggal Tunggu Gaji, Sudah Membaur dan Mulai Pakai Bahasa Indonesia

Carmi

CIREBON-Atase Ketenagakerjaan KBRI Riyadh, Arab Saudi, DR Sa’dullah Affandi MA berkunjung ke kediaman Carmi (43), Pekerja Migrant Indonesia (PMI) yang selama 31 tahun hilang kontak di Arab Saudi. Kedatangan pria yang akrab disapa Kang Sa’dun tersebut bertujuan unuk mengabarkan secara langsung kondisi terkini Carmi, yang kini sudah mulai bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan membaur dengan para PMI serta staf KBRI di Riyadh.

Menurut Kang Sa’dun, Carmi belum bisa pulang ke Indonesia dalam waktu dekat. Ia harus menyelesaikan dulu segala urusannya dengan majikan sebelum kembali ke Indonesia. “Tapi kondisinya sehat. Dia titip salam buat keluarga. Sekarang perkembangannya sudah bagus. Dia  sudah membaur dengan teman-temannya sesama PMI dan sudah mulai berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Beda sekali dengan kondisi saat awal ditemukan,” ujarnya.

Kang Sa’dun pun meceritakan proses pencarian Carmi hingga akhirnya ditemukan. Tim awalnya kesulitan karena informasi dan data yang minim. Terlebih keberangkatan Carmi sebelum era digitalisasi dan komputerisasi. “Titik terang itu muncul setelah kita mendapatkan informasi nama dan pekerjaan majikan Carmi dari tim yang ada di Indonesia. Penelusuran pun dipersempit dan akhirnya majikan Carmi berhasil ditemukan. Kebetulan majikannya ini seorang kepala kepolisian lalu lintas di salah satu wilayah di Arab Saudi. Jaraknya sekitar 400 KM dari Riyadh,” beber Kang Sa’dun kepada Radar Cirebon.

“Saat dicari ke lokasi pertama, ternyata sudah pensiun majikannya, sekitar 10 tahun lalu. Karena jelas nama majikannya akhirnya dicari lagi dan berhasil dikontak, jaraknya sekitar 200 KM dari lokasi pertama dan saat itu benar yang bersangkutan adalah majikan Carmi,” lanjutnya.

Tim dari KBRI dan majikan Carmi akhirnya sepakat bertemu di salah satu kantor kepolisian untuk membahas nasib Carmi. Saat itu, sang majikan turut menghadirkan Carmi untuk diverifikasi apakah yang bersangkutan benar adalah Carmi atau bukan.

“Setelah pertemuan itu, tim dari KBRI harus membawa Carmi ke KBRI. Meskipun awalnya Carmi menolak namun tim dari KBRI  berusaha meyakinkan agar Carmi mau ikut. Terlebih Carmi harus mengurus administrasi karena seluruh dokumennya sudah tak berlaku akibat tak pernah melapor ataupun memperpanjang izin serta lain-lainnya selama berada di Arab Saudi,” jelasnya.

Tim KBRI yang menangani Carmi kemudian mengajukan beberapa pertanyaan dan memeriksa apakah Carmi mengalami tindak kekerasan ataupun hal-hal lainnya sehingga selama 31 tahun tidak pernah memberikan kabar kepada pihak keluarga.

“Dari hasil pemeriksaan, tidak ada tindak kekerasan, tidak ada pemaksaan. Cuma mungkin karena tidak ada akses untuk komunikasi dan tidak pernah keluar rumah jadi seperti itu. Ketemu saya pun awalnya ketakutan, dikiranya orang asing. Tapi alhamdulillah sekarang sudah banyak perubahan yang lebih baik,” papar Kang Sa’dun.

Menurut pria asli Cirebon tersebut, saat ini yang masih berusaha diperjuangkan oleh Carmi dan tim KBRI adalah pemenuhan hak-hak Carmi selama bekerja di sana. Dari hasil mediasi awal, diketahui jika Carmi sudah pernah menerima gaji, namun jumlah tersebut tidak seberapa jika dibandingkan dengan nominal nilai uang yang harus diperoleh Carmi selama 31 tahun bekerja.

“Kalau nilai nominal yang pernah diterima itu sekitar 50.000 real. Carmi juga pernah diberangkatkan umrah dan dibelikan emas. Akhirnya kita hitung semua hak-hak Carmi dikurangi dengan apa yang sudah diberikan oleh majikan. Akhirnya sang majikan bersedia, tapi meminta waktu tempo 2 bulan untuk penyelesaian gaji dari Carmi,” ungkapnya.

Saat ini, menurut Kang Sa’dun, tim dari KBRI tidak henti-hentinya memberikan pelayanan kepada PMI dan warga Indoensia yang ada di Arab Saudi. Namun diakuinya ada beberapa kendala yang dihadapi KBRI soal penanganan PMI. Karena sebagian besar PMI di Saudi merupakan tenga kerja ilegal yang bekerja tidak menggunakan visa dan izin yang seharusnya.

“Moratorium tenaga kerja di Arab Saudi sampai dengan saat ini belum dicabut, masih berlaku. Sementara permintaan dan kebutuhan dari Arab Saudi begitu tinggi, akhirnya kemudian banyak yang memaksa masuk menggunakan cara tak resmi dan tak terdata di KBRI sebagai pekerja,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Cirebon Abdullah Subandi saat ditemui di tempat yang sama mengatakan pihaknya terus berkorodinasi dengan pihak-pihak terkait dalam upaya pencarian dan perlindungan PMI bermasalah di luar negeri. “Tidak hanya untuk Carmi, ada juga beberapa masalah PMI yang kini muncul. Semuanya kita tangani dengan seriu,” akunya.

Diakui Abdullah, dari jumlah PMI yang bekerja di luar negeri, mayoritas adalah PMI yang bekerja di sektor informal. Rasio perbandingannya pun cukup besar sekitar 70 persen berbanding 30 persen. “Tapi marginnya terus kita perkecil. Meskipun bekerja di sektor informal, PMI tetap kita berikan pelatihan, terutama untuk bahasa agar lancar berkomunikasi saat berada di negara orang,” ucapnya.

Pihaknya pun mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang sudah membantu pencarian terhadap Carmi yang kini sudah ditemukan dan berada di KBRI. Hal ini tentu harus diapresiasi, khsusunya kerja keras KBRI Riyadh dalam upaya perlindungan kepada warga Kabupaten Cirebon. Saat ini menurut Abdullah lebih dari 10.000 PMI asal Kabupaten Cirebon yang tersebar di berbagai negara.

Sementara pihak keluarga pun sudah tak sabar menunggu kepulangan Carmi. Bahkan Kamis (12/9) beberapa keluarga Carmi sudah mempersiapkan makanan dan minuman untuk menyambut tamu yang datang.

“Tadi (kemarin) sih ada telepon, katanya dari perwakilan KBRI mau datang, tapi gak tahu apakah Carmi ikut atau tidak. Tapi kita sudah siap-siap. Siapa tahu dari KBRI-nya mau kasih kejutan dan Carmi tiba-tiba ikut pulang,” ujarnya.

Ditemukannya sang anak setelah 31 tahun tak bertemu membuat Ilyas bersyukur. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu, termasuk KBRI Riyadh yang sudah bersusah payah menyampaikan kabar secara langsung ke rumahnya. “Terima kasih. Hanya Allah yang bisa membalas semua kebaikan bapak-bapak. Saya sekeluarga sudah tak sabar ingin bertemu,” imbuh Ilyas.

Carmi sendiri berangkat di usia 13 tahun usai lulus SD. Ia kepincut berangkat keluar negeri setelah melihat tetangganya yang sukses setelah pulang dari luar negeri. Untuk memuluskan jalannya keluar negeri, Carmi yang saat itu masih di bawah umur terpaksa memalsukan umur. Carmi yang kala itu masih berusia 13 tahun disulap menjadi 19 tahun. (dri)

Berita Terkait