Kemendag Kembangkan Produk Batik Berbahan Zat Alami

APRESIASI BATIK CIREBON: Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, Tjahya Widayanti didampingi Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon, Deni Agustin SE melihat hasil batik produksi Cirebon, kemarin (10/7). FOTO: ILMI YANFA UNNAS/RADAR CIREBON
APRESIASI BATIK CIREBON: Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, Tjahya Widayanti didampingi Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon, Deni Agustin SE melihat hasil batik produksi Cirebon, kemarin (10/7).FOTO: ILMI YANFA UNNAS/RADAR CIREBON

CIREBON– Kementerian Perdagangan RI mendorong perajin batik di Kabupaten Cirebon menggunakan pewarna alami di setiap produksi. Lebih ramah lingkungan dan tahan lama.

Karena itu, kemarin (10/7), Kementerian Perdagangan memberi bimbingan teknis pengembangan produk peningkatan kualitas pewarna alami, di salah satu hotel di Bilangan Tuparev.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan RI, Tjahya Widayanti mengatakan, produk batik dengan bahan alami di Kabupaten Cirebon ke depan akan memiliki daya saing. Meskipun terjadi perbedaan yang mencolok.

Yang mencolok adalah penggunaan bahan kimia. Warnanya lebih cerah. Sedangkan bahan alami terlihat lebih kusam dan kesannya lebih pudar. Tapi, kualitasnya tak jauh berbeda.

Bahkan, bahan batik alami lebih diburu orang-orang luar. Sebab, dilihat dari pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) dan lebih ramah terhadap lingkungan.

“Kita akan mendorong agar di Kabupaten Cirebon ke depan bahan kerajinan batik dari pewarna alami (tumbuh-tumbuhan, red), termasuk pengembangan teknologinya,” ungkapnya.

Di Cirebon yang sudah mengembangkan bahan atau zat alami adalah batik di Ciwaringin. Bahan alami, jauh lebih tahan lama meski terlihat pudar, tapi elegan jika dibandingkan dengan zat kimia.

Pengembangan bahan alami untuk produk batik ini, kata Widayanti, bukan hanya di Cirebon. Tapi di semua wilayah. Di samping itu, pihaknya pun akan mendorong ekspor. “Harga batik berbahan zat alami mampu bersaing dengan bahan zat kimia,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon, Deni Agustin SE mengatakan, untuk batik yang menggunakan bahan alami dan zat kimia mempunyai keunggulan masing-masing.

Zat alami lebih ramah lingkungan, warnanya, lebih soft. Tapi, Memberi kesan mewah. Dan zat penggunaan zat alami ini berdampingan dengan isu lingkungan yang sedang mendunia. Artinya, sudah waktunya mengurangi penggunaan zat kimia. “Kita kembali ke alami,” ucapnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan Kementrian Perdagangan dalam meningkatkan produk lokal (batik) berbahan alami, sangat tepat sekali. Dan jauh lebih diterima di pasar mancanegara.

“Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Dalam Negeri, saat ini sedang meningkatkan kualitas batik, tapi secara komprehensif. Mulai teknologi produksi sampai jejaring luar negeri. Maka, peluang ini harus dimanfaatkan. Apalagi, produk batiknya menggunakan zat alami,” paparnya.

Dia menambahkan, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam segi harga. Bedanya, paling hanya di bahan dan tergantung dari motifnya. Setidaknya, penggunaan zat alami untuk produksi batik dapat meluas di Kabupaten Cirebon.

“Saat ini, yang sudah konsen menggunakan batik berbahan alami baru di Ciwaringin. Kita harapkan, sentra batik di Trusmi yang menggunakan bahan kimia, bisa bergeser ke bahan alami,” pungkasnya. (sam)

 

Berita Terkait