Keluarga Siswa Korban Penganiayaa Lapor KPAI dan Kemenag

Korban menjalani foto rontgen di rumah sakit.FOTO: IST

CIREBON-Proses pelaporan juga diperluas ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Agama (Kemenag). Pelaporan itu dibenarkan Munadi, perwakilan keluarga KM. Di Kota Cirebon, pihaknya telah mendatangi Bidang Perlindungan Anak DSPPA (Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Kota Cirebon.

“Tapi DSPPA belum bisa ambil tindakan karena belum ada permintaan dari kepolisian,” terang Munadi kepada Radar Cirebon, Senin (9/12).

Begitupun dengan penanganan proses di kepolisian dan di sekolah, Munadi mengatakan harus ada surat dari pusat yang menyatakan KM harus dilindungi. “Lembaga yang seperti Komisi Perlindungan Anak (KPA) di Kota Cirebon belum ada. Jadi untuk DSPPA belum bisa berbuat banyak, karena belum ada permintaan dari kepolisian,” ungkapnya.

Munadi juga mendatangi Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Cirebon. Itu karena sekolah tempat KM  belajar adalah MTs. Semua sudah diceritakan di hadapan pihak Kemenag Kota Cirebon. Hasilnya, kata Munadi, hari ini Selasa (10/12) pihak yayasan dan kepala sekolah akan dipanggil.

Terkait bila pihak yayasan ingin penyelesaian masalah ini dengan kekeluargaan, Munadi belum bisa memutuskan. Ia menegaskan harus dibicarakan dengan keluarga besar KM. Menurutnya, yang penting sekarang proses hukum tetap berjalan. “Harus ada pertemuan dulu. Antara kami, yayasan, dan sekolah. Agar jelas duduk persoalannya. Perkara nanti ada mediasi atau yang lainnya itu berjalan kemudian,” terangnya.

“Yang jelas kami sudah laporkan pelaku penganiayaan. Sedangkan untuk institusi yayasan dan sekolah kami belum. Ini nanti tergantung dari hasil pertemuan yang akan difasilitasi oleh Kemenag. Apabila pihak yayasan bersikukuh tidak bersalah dan malah melempar tuduhan keji, maka kami akan menempuh jalan hukum lainnya,” pungkas Munadi.

Seperti diberitakan, KM (13) yang merupakan siswa MTs pada sebuah yayasan di Cirebon itu disekap dan dianiaya siswa lain menggunakan tangan dan benda tumpul. Aksi tak terpuji itu membuat siswa kelas VII ini harus mandi darah. Luka cukup serius di bagian hidung, di mana darah tak henti ngucur. Korban sampai hrus dirawat di salah satu rumah sakit di Cirebon.

Kejadian ini diduga karena unsur dendam. KM disebut-sebut memergoki salah satu pelaku menggunakan rokok elektrik. KM lalu melapor ke guru. Nah, pelaku rupanya tak terima dan merencanakan penyekapan plus penganiayaan itu.

Penganiayaan yang direncanakan itu terjadi pada Sabtu (7/12). KM yang waktu itu hendak pulang sekolah, mendadak dipanggil temannya sesama siswa  MTs berinisial ID. Kemudian ID membawa KM ke sebuah ruangan di Madrasah Aliyah (MA) di lingkungan sekolah itu.

Di ruangan itulah KM disekap, diintimidasi, dan dianiaya selama kurang lebih dua jam. Tidak hanya dipukul dan diinjak, KM digebuk dengan raket oleh pelaku yang disebut berstatus siswa Madrasah Aliyah (MA). Darah mengucur dari hidung tak membuat puas para pelaku. Sampai pada batas KM nyaris pingsan, barulah siksaan itu berhenti.

Yang bikin geram keluarga, salah seorang pelaku memerintahkan KM mencopot seragam yang penuh dengan darah dan menggantikannya dengan kaus pelaku. Itu merupakan upaya jahat para pelaku agar tindakan kebrutalan mereka tak terendus. KM juga diancam agar tidak menceritakan kejadian ini. Ia ditekan agar mengaku luka yang terjadi karena jatuh ketika bermain bola di lingkungan sekolah.

Sepulangnya KM dari sekolah, orang tuanya tersentak. Pasalnya, ada luka di sekujur tubuh dan darah dari hidung tak berhenti ngucur. Setelah pihak keluarga mencoba mengajak KM berbicara, dia menceritakan kejadian sebenarnya. Saat itu juga keluarga membawa KM ke rumah sakit sekaligus melapor ke Polres Cirebon Kota. (gus)

Berita Terkait