Kebocoran Saluran Air di Jl Kelud I Masalah Serius

Air limbah dari pipa riol di Jl Kelud I, Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti menggenangi kawasan permukiman, Rabu (12/12). FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Air limbah dari pipa riol di Jl Kelud I, Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti menggenangi kawasan permukiman, Rabu (12/12).FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON–Luapan saluran air di Jalan Kelud I, Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti, tak bisa dipandang remeh. Sepintas, seperti luapan drainase biasa. Padahal, penyebabnya sangat kompleks. Perlu penanganan khusus. Mengingat sistem riol yang digunakan dalam pembuatan saluran air di komplek perumahan tersebut.

Ketua RW 07 Mekar Asih Ujang Mulyana mengungkapkan, genangan air ini cukup membuat warga terganggu. Apalagi timbul bau tidak sedap yang cukup menyengat. “Ini ada masalah dengan sistem riol-nya,” tutur Ujang, Rabu (12/12).

Sedikit banyak, Ujang memahami sistem ini. Ia sudah tinggal di kawasan perumnas sejak tahun 1978. Juga Lulusan Politeknik Negeri Bandung. Di era itu, sistem saluran air yang ada di kawasan perumnas khususnya di Jalan Kelud dirancang secara masif, dan sistemik. Menggunakan teknologi yang diadopsi dari Eropa. “Namanya sistem riool. Sekarang terganggu karena banyak masyarakat yang tidak paham,” tuturnya.

Peter Shubeler in UNDP/UNCHS/World Bank Urban Management Program Publication; CUDP initiated in 1978 with the goal of improving water suplly. in a subsequent phase, drainase works, sanitation and solid waste improvements were introduced.

Cirebon Urban Development Project (CUDP) merupakan upaya untuk meningkatkan kebutuhan air bersih masyarakat. Yang pada fase selanjutnya, juga termasuk drainase, sanitasi dan limbah solid. Di fase ketiga, CUDP dimulai tahun 1992. Termasuk Community Participation Program (CPP).

Ujang menyebut, banyak penghuni rumah yang tidak tahu dengan sistem riool ini. Ketika semakin banyak rumah dibangun di sekitar wilayah ini, banyak yang menutup akses jaringan pipa. Akhirnya yang terjadi seperti yang bisa terlihat saat ini. “Metodanya ini dari luar negeri. Banyak masyarakat yang nggak ngerti,” tuturnya.

Masalah lain ialah dana pemeliharaan pipa riol terlupakan oleh pemerintah. Regulasinya juga tidak mendukung. Dengan adanya sistem ini, mestinya dikeluarkan aturan agar setiap pembangunan baru masuk ke dalam sistemnya.

Dari analisa Ujang, air yang meluap diduga karena tidak seimbangnya integrasi dari sistem riol. Sehingga hasilnya, baik musim penghujan atau kemarau saluran air bocor selalu. Untuk menanganinya, pemerintah perlu turun tangan. Baik dalam pengelolaan maupun perawatannya. Mengingat biayanya cukup tinggi. “Masyarakat ini nggak paham. Dikiranya mampet, asal langsung disogok aja biar jalan alirannya. Padahal  nggak gitu,” katanya.

Penanganan yang tidak tepat pada riol, juga berbahaya. Mengingat kandungan limbahnya masuk kategori B3. (myg)

Berita Terkait