Kasus Penganiayaan, Yayasan Sekolah Anggap hanya Kenakalan Anak-anak

Berharap Ada Jalan Damai

Korban menjalani foto rontgen di rumah sakit.FOTO: IST

CIREBON-Pihak yayasan di mana KM sekolah akhirnya buka suara. Diding Sobarudin AMd yang ditunjuk sebagai juru bicara yayasan mengatakan pihaknya ikut sedih dan prihatin atas kejadian yang menimpa KM. Ia pun membenarkan peristiwa penganiayaan yang menimpa KM terjadi pada Sabtu (7/12).

Pada saat itu sekolah sedang fokus menyelenggarakan tes dan sebagian siswa juga ikut remedial. Sehingga ketika terjadi peristiwa tersebut, pihak sekolah tidak mengetahuinya. Kejadian tersebut berlangsung di salah satu ruangan asrama MA dan dilakukan oleh kakak tingkat dari KM.

Diding menyebutkan, kejadian ini hanyalah kenakalan anak-anak. Karena baik korban maupun pelaku masih di bawah umur. “Saya sedih dan prihatin dengan kejadian ini. Padahal pihak sekolah pada setiap kesempatan selalu menyampaikan pelajaran akhlak, kasih sayang kepada teman dan sahabat. Tapi ya namanya anak-anak yang masih labil emosinya, maka peristiwa itu terjadi,” kata Diding ditemui Radar Cirebon di ruang kerjanya, Senin (9/12).

Dengan kejadian ini, pihaknya akan lebih ekstra untuk meningkatkan pengawasan lingkungan sekolah dan para siswa. Pasalnya, yayasan yang membawahi beberapa sekolah dan lembaga lainnya mempunyai lingkungan yang cukup luas sekitar 2 hektare. Terkait pelaku, Diding mengatakan sampai kemarin mereka tetap masuk dan belajar seperti biasa. Sebagian pelaku juga sedang dalam program pemantapan karena sudah kelas XII yang sebentar lagi mengikuti ujian nasional.

Terkait kebijakan apa yang diambil terhadap para pelaku, Diding menegaskan pihak yayasan akan menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Karena keluarga korban sudah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. “Posisi kita adalah menunggu proses hukum dari kepolisian. Kami juga siap memediasi dengan pendekatan kekeluargaan, kepada kedua belah pihak, yakni keluarga korban dan keluarga pelaku,” terang Diding.

Ia kembali menegaskan kejadian ini adalah semata-mata kenakalan anak. Pihaknya akan mencoba memediasi dan mendorong kedua belah pihak menyelesaikan secara kekeluargaan. Bila mediasi ini berjalan dengan baik, maka pihaknya akan mengambil kebijakan dari mulai pembinaan, surat peringatan, skorsing atau bahkan bisa dipindahkan.

Meski phak keluarga korban tetap membawa masalah ini ke ranah hukum, pihaknya masih menaruh harapan agar bisa mediasi dan ditempuh jalan damai. “Kami mengakui ini adalah kesalahan kami dari sekolah sampai yayasan. Kami pihak yayasan dan sekolah juga sudah menjenguk korban di rumah sakit sebanyak dua kali. Ini sebagai bentuk tanggungjawab dan kepedulian sekaligus membuka jalan mediasi kepada keluarga korban,” pungkas Diding. (gus)

Berita Terkait